Model Pembelajaran Open Ended Problems (Problem Terbuka)
Model Pembelajaran Open Ended Problems (Problem Terbuka)

By JUMAKIR, S Pd., MM 29 Mei 2021, 13:12:18 WIB model pbm
Model Pembelajaran Open Ended Problems (Problem Terbuka)

Gambar : Foto Kumpulan Model PBM


KANGJO.NET, Tamiang Layang. Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pemeblajaran ini melatih dan menumbuhkan orisionalitas ide, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut berimprovisasi mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Selanjutnya, siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian, model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola piker keterbukaan, dan ragam berpikir.

Problem open ended  merupakan problem yang diformulasikan memiliki banyak jawaban yang benar. Problem ini disebut juga problem tak lengkap atau problem terbuka. Selain itu, masalah open ended juga mengarahkan siswa untuk menggunakan keragaman cara atau metode penyelesaian sehingga sampai pada  suatu jawaban yang diinginkan.

Pembelajaran matematika misalnya, melalui pendekatan open ended adalah pemebelajaran yang menggunakan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban yang benar sehingga mengundang potensi intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Dalam menyelesaikan masalah, guru berusaha agar siswa mengombinasikan pengetahuan, keterampilan,  dan cara beripkir matematika yang telah dimiliki sebelumnya (Swadana dalam Muqsudah, 2003: 17).

Ciri penting dari masalah open ended adalah terjadinya keleluasaan siswa untuk memakai sejumlah metode dan segala kemungkinan yang dianggap paling sesuai untuk menyelesaikan masalah. Artinya, pertanyaan open ended diarahkan untuk menggiring tumbuhnya pemahaman atas masalah yang diajukan guru. Bentuk-bentuk soal yang dapat diberikan melalui pendekatan open ended terdiri dari tiga bentuk, yaitu: (1) Soal untuk mencari hubungan, (2) Soal mengklasifikasikan, dan (3) Soal mengukur (Swadana dalam Muqsudah, 2003: 18-21).

Pendekatan open ended  menjanjikan suatu kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasikan berbgai strategi dan cara yang diyakini sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan. Tujuannya agar berpikir melalui kegiatan kreatif, siswa dapat berkembang secara maksimal.

Langkah-langkah:

  1. Persiapan

Sebelum memulai proses belajar mengajar, guru harus membuat rencana pelaksanaan pelajaran (RPP), membuat pertanyaan Problem open ended.

  1. Pelaksanaan, terdiri:

Pendahuluan, yaitu siswa menyimak motivasi yang diberikan oleh guru bahwa yang akan dipelajari berkaitan atau bernmanfaat bagi kehidupan sehari-hari sehingga mereka semangat dalam belajar. Kemudian siswa menaggapi apersepsi yang dilakukan oleh guru agar diketahui pengetahuan awal mereka terhadap konsep-konsep yang akan dipelajari.

Kegiatan inti, yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan Langkah-langkah sebagai berikut:

  • Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari lima orang.
  • Siswa mendapatkan pertanyaan open ended problem.
  • Siswa berdikusi Bersama kelompok mereka masing-masing mengenai penyelesaian dari pertanyaan open ended problem yang telah diberikan oleh guru.
  • Setiap kelompok siswa melalui perwakilannya, mengemukakan pendapat atau solusi yang ditawarkan kelompoknya secara bergantian.
  • Siswa atau kelompok kemudian menganalisis jawaban-jawaban yang telah dikemukakan, mana yang benar dan mana yang lebih efektif.

Kegiatan akhir, yaitu siswa menyimpulkan apa yang telah dipelajari. Kemudian kesimpulan tersebut disempurnakan oleh guru.

  1. Evaluasi

Setelah berakhirnya KBM, siswa mendapatkan tugas perorangan atau ulangan harian yang berisi pertanyaan open ended problem yang merupakan evaluasi yang diberikan oleh guru.

Kelebihan:

  • Siswa berpartisipasi lebih efektif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
  • Siswa mempunyai kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan secara komprehensif.
  • Siswa dengan kemampuan rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
  • Siswa secara intrinstik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
  • Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

       Kekurangan:

  • Membuat dan menyiapkan masalah yang bermakna bukanlah permasalahan yang mudah.
  • Mengemukakan yang langsung dapat  dipahami siswa sangat sulit, sehingga banyak mengalami kesulitan bagaiamana merespon permasalahan yang diberikan.
  • Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.

 

SUMBER:

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment