Double Loop Problem Solving (DLPS)
Double Loop Problem Solving (DLPS)

By JUMAKIR, S Pd., MM 29 Mei 2021, 13:06:00 WIB model pbm
Double Loop Problem Solving (DLPS)

Gambar : Foto Kumpulan Model PBM


KANGJO.NET, Tamiang Layang. Double Loop Problem Solving (DLPS) adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah. Jadi, berkenaan  dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa.

Pendekatan Double Loop Problem Solving (DLPS), yang disarankan disini mengakomodasi adanya perbedaan  atas dari penyebab suatu masalah. Oleh karena itu, siswa perlu bekerja pada dua loop pemecahan berbeda tetapi saling terkait.

Loop solusi 1 ditujukan untuk mendeteksi penyebab masalah yang paling langsung, kemudian merancang dan menetapkan solusi sementara.

Loop solusi 2 berusaha untuk menemukan penyebab yang arasnya lebih tinggi, kemudian merancang dan mengimplementasikan solusi dari akar masalah.

Banyak dari masalah tersebut yang tidak dapat menunggun sampai dengan ditemukannya solusi atas akar masalah sehingga perlu solusi sementara yang segera. Kadang-kadang solusi sementara sudah cukup memadai. Khususnya jika solusi tersebut tidak mahal untuk diimplementasikan atau tidak menguras sumber daya penting lainnya. Selain itu, ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa solusi sementara dapat efektif sehingga akhirnya menjadi solusi permanen dari masalah yang ada. Dalam hal yang terakhir ini, berarti tidak ada penyebab masalah tingkat tinggi yang perlu dicarikan solusinya. Oleh karena itu, pendekatan Double Loop Problem Solving (DLPS) meliputi:

  1. Mengidentifikasi masalah, tidak hanya  gejalanya (identifying the problem, not just the symptoms).
  2. Mendeteksi secara langsung dan secara cepat menerapkan solusi sementara (detecting direct causes, and rapidly applying temporary solutions).
  3. Mengevaluasi keberhasilan dari solusi sementara (evaluating the success of the  temporary solutions).
  4. Memutuskan apakah analisis akar masalah diperlukan, jika ya (deciding if root cause analysis is needed; and if so).
  5. Mendeteksi penyebab masalah yang arasnya lebih tinggi (detecting higher level causes).
  6. Merancang solusi akar masalah (designing root cause solutions).

Masalah dapat dievaluasi atas dasar tingkat kepentingannya dan kemungkinan dari tingkat kompleksitas solusinya. Penting-tidaknya suatu masalah ditentukan oleh biaya (finansial ataupun non finansial) yang akan muncul jika masalah tetap tidak dipecahkan. Kompleksitas tergantung pada jumlah variable yang saling berkaitan dan ketertarikan pada solusi yang kemungkinan akan diterapkan.

Kelompok perlu terlibat dalam pemecahan masalah manakala masalah memang cukup penting dan jika jelas diketahui bahwa satu orang seorang diri tidak akan dapat mengembangkan atau mengimplementasikan suatu solusi yang memuaskan. Sebaliknya masalah yang tidak penting tidak perlu investasi dalam bentuk aktivitas pemecahan masalah secara kelompok.

Dengan demikian, siswa yang mengikuti pelatihan ini mampu memiliki keterampilan untuk mengelola pemikirannya sehingga mampu melakukan proses pemecahan masalah maupun pengambilan keputusan. Hal ini sangat penting karena pada awal masa pembelajaran siswa dihadapkan  pada berbagai macam pilihan dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu keterampilan untuk menentukan prioritas aktivitas sekaligus pemecahan berbagai macam permasalahan yang dihadapinya.

Langkah-langkah:

  1. Identifikasi.
  2. Deteksi kausal.
  3. Solusi tentative.
  4. Pertimbangan solusi.
  5. Analisis kausal.
  6. Deteksi kausal lain dan rencana yang terpilih.

Langkah penyelesaian masalah

  1. Menyatakan pernyataan masalah awal.
  2. Mengelompokkan gejala.
  3. Menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi.
  4. Mengidentifikasi kausal.
  5. Implementasi solusi.
  6. Identifikasi kausal utama.
  7. Menemukan pilihan solusi utama.
  8. Implementasi solusi utama

Kelebihan:

  • Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
  • Berpikir dan bertindak kreatif.
  • Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
  • Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
  • Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  • Merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
  • Dapat membuat Pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

Kekurangan:

  • Memerlukan alokasi waktu yang lebih Panjang dibandingkan dengan metode pemebelajaran yang lain.

 

SUMBER:

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment