Contoh Laporan PTS SD Lengkap
Contoh PTS

By JUMAKIR, S Pd., MM 18 Jun 2022, 19:19:38 WIB contoh PTS
Contoh Laporan PTS SD Lengkap

Gambar : dok.pribadi


ABSTRAK

Penelitian ini berjudul: “Peningkatan Kompetensi Pedagogik dalam Menyusun RPP melalui Supervisi akademik Guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Tahun Pelajaran 2013/20114”.

Tujuan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk meningkatkan Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP melalui Supervisi akademik pada Guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Tahun Pelajaran 2013/20114, dalam menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi masing-masing pelajaran agar dapat menjadi acuan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal.

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan (action Research) yang terdiri dari 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada komponen Perumusan indikator tujuan pembelajaran, terlihat peningkatan dari 64% pada Kompetensi awal, menjadi 72% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 76%; (2) Pada Komponen Penentuan bahan dan materi pembelajaran, terdapat peningkatan Kompetensi dari 48% menjadi 64% setelah siklus I dan pada siklus II lebih menguat menjadi 72%; (3) Dalam Komponen Pemilihan Strategi dan metoda pembelajaran, yang didalamnya memuat langkah-langkah pembelajaran dan penentuan alokasi waktu yang digunakan,terlihat adanya peningkatan yang signifikan dari yang semula hanya 60% menjadi 64% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 72% setelah siklus II; (4) Meskipun tidak terlihat adanya peningkatan yang cukup tajam, dalam komponen pemilihan Media dan alat pembelajaran juga terdapat adanya peningkatan dari 60% pada awal kegiatan dan 60% setelah siklus I, menjadi 72% setelah siklus II; (5) Peningkatan yang cukup signifikan juga dapat kita lihat pada komponen perencanaan evaluasi pembelajaran. Dari yang semula hanya 56% pada awal kegiatan, menjadi 56% pada akhir siklus I dan berhasil mencapai 76% pada akhir siklus 2; dan (6) Melihat data perolehan hasil penelitian dalam kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik dapat meningkatkan Kompetensi Guru dalam Menyusun RPP Guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur.

Kata kunci : Kompetensi Pedagogik, Supervisi Akademik, RPP

BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Masalah

Reformasi pendidikan adalah memperbaiki pola hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan pemerintah, pola pengembangan perencanaan, serta pola pengembangan manajerialnya, pemberdayaan guru dan restrukturisasi model model pembelajaran.

Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam sektor kurikulum, baik struktur maupun prosedur penulisannya. Pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktik pembelajaran di dalam maupun di luar Sekolah. Keberhasilan implementasi kurikulum sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru yang akan menerapkan dan mengaktualisasikan kurikulum tersebut. Tidak jarang kegagalan implementasi kurikulum disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, keterampilan dan kemampuan guru dalam memahami tugas tugas yang harus dilaksanakannya. Hal itu berarti bahwa guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran menjadi kunci atas keterlaksanaan kurikulum di sekolah.

Dalam kurikulum 2006, guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, bahkan membuat sendiri silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya, dan menjabarkannya menjadi persiapan mengajar yang siap dijadikan pedoman pembentukan kompetensi peserta didik.

Upaya perwujudan pengembangan silabus menjadi perencanaan pembelajaran implementatif memerlukan kemampuan yang komprehensif. Kemampuan itulah yang dapat mengantarkan guru menjadi tenaga yang professional. Guru yang profesional harus memiliki 5 (lima) kompetensi yang salah satunya adalah kompetensi penyusunan rencana pembelajaran. Namun dalam kenyataannya masih banyak guru yang belum mampu menyusun rencana pembelajaran sehingga hal ini secara otomatis berimbas pada kualitas output yang dihasilkan dalam proses pembelajaran.

Upaya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya melalui pelatihan, seminar, workshop, menyediakan berbagai panduan dan modul. Namun setelah mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangannya, maka pembinaan yang terencana dan berkesinambungan dalam supervisi akademik melalui tehnik supervisi kelompok dianggap lebih efektif karena setiap permasalahan yang ditemukan bisa langsung dicarikan solusi bersama dan waktunya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing guru. Dalam pelaksanaannya kepala sekolah akan dibantu oleh beberapa guru/wakasek yang dianggap telah memiliki pengetahuan yang cukup dan kemampuan yang baik dalam menyusun rencana pembelajaran.

    1. Identifikasi Masalah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru kesulitan dalam menyusun rencana pembelajaran, diantaranya adalah:

  1. Guru tidak memiliki dasar pendidikan keguruan sehingga tidak dibekali dengan pengetahuan tentang perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
  2. Guru belum pernah mengikuti pelatihan penyusunan RPP sehingga mereka hanya copy paste pada temannya, padahal seringkali RPP hasil copy paste tidak relevan dengan situasi dan kondisi di sekolahnya sehingga RPP yang ada tidak bisa dijadikan acuan dalam proses pembelajaran.
  3. Guru sudah pernah mengikuti pelatihan, tapi belum mampu menerapkannya di sekolah.

 

Kondisi tersebut tentu tidak bisa dibiarkan terus menerus, tetapi harus ada solusi dan tindakan nyata dari kepala sekolah sebagai penanggungjawab keberhasilan pendidikan di sekolahnya. Para guru tersebut harus mendapatkan pembinaan agar mampu meningkatkan kemampuannya dalam menyusun rencana pembelajaran, terutama bagi guru-guru yang memang tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan, sebelum mereka menempuh pendidikan tambahan agar memiliki akta IV sebagai bukti kewenangan mengajar. Kepala sekolah perlu melakukan suatu tindakan melalui supervisi akademik untuk membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

 

1.3 Rumusan Masalah

Sehubungan dengan hal tersebut, maka masalah penelitian dapat penulis rumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:

“Bagaimanakah supervisi akademik dapat meningkatkan Kompetensi Pedagogik dalam menyusun RPP terhadap guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur?

 

    1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan utama dari penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk meningkatkan Komptensi Pedagogik guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur, dalam menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi masing-masing pelajaran agar dapat menjadi acuan dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal.

    1. Manfaat Penelitian

Penelitian tindakan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai kalangan, antara lain:

    1. Bagi kepala sekolah dapat lebih meningkatkan kemampuan dalam melakukan pembinaan kepada para guru melalui supervisi akademik.
    2. Bagi para guru dapat memberikan manfaat yang besar dalam membantu memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan peren-canaan pembelajaran, sehingga mampu meningkatkan kualitas pembe-lajaran yang akan berdampak pada peningkatan hasil pembelajaran.
    1. Hipotesis Tindakan

Hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah melalui Supervisi Akademik dapat meningkatkan Komptensi Pedagogik dalam menyusun RPP pada guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur.

    1. Definisi Operasional
  1. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professiona (Permendiknas No. 16 Thun 2009)
  2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah suatu pengembangan instruksional sebagai sistem yang terintegrasi dan terdiri dari beberapa unsur yang saling berinteraksi (Toeti Soekamto1993: 9).

BAB II KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Kompetensi Guru

Pendidikan adalah proses pembelajaran. Tidak ada kualitas pendidikan persekolahan tanpa kualitas pembelajaran. Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan persekolahan dapat dianggap kurang berguna bilamana belum menyentuh perbaikan proses pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan persekolahan, maka Pemerintah melalui Depatemen Pendidikan Nasional, mengembangkan berbagai program yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Di antara keseluruhan komponen dalam pembelajaran guru merupakan komponen organik yang sangat menentukan. Tidak ada kualitas pembelajaran tanpa kualitas guru. Apapun yang telah dilakukan oleh Pemerintah, namun yang pasti adalah peningkatan kualitas pembelajaran tidak mungkin ada tanpa kualitas kinerja guru,sehingga peningkatan kualitas pembelajaran, juga tidaklah mungkin ada tanpa peningkatan kualitas para gurunya. Guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru merupakan unsur pendidikan yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah dan banyak menentukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, menyebutkan ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu kompetensi-kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial.

Menurut Glasser (dalam Rusman, 2012:53), berkenaan dengan kompetensi guru, ada empat hal yang harus dikuasai gutu yaitu menguasai bahan pelajaran, mampu mendignosa tingkah laku, mampu melaksanakan proses pembelajaran, dan mampu mengevaluasi hasil belajar siswa.

Selaras dengan penjelasan ini adalah satu teori yang dikemukakan oleh Glickman (1981). Menurutnya ada empat prototipe guru dalam mengelola proses pembelajaran. Prototipe guru yang terbaik,menurut teori ini, adalah guru prototipe profesional. Seorang guru bisa diklasifikasikan ke dalam prototipe profesional apabila ia memiliki kemampuan tinggi (high level of abstract) dan motivasi kerja tinggi (high level of commitment).

Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru ditegaskan bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Di dalam permendiknas tersebut dirinci kompetensi inti guru dan kompetensi guru dalam mata pelajaran.

Dalam kompetensi pedagogik, disebutkan beberapa kompetensi inti yang harus dikuasai oleh seorang guru mata pelajaran, diantaranya sebagai berikut:

  1. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu
  • Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
  • Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu.
  • Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diampu.
  • Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran.
  • Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik.
  • Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian.
  1. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
  • Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik.
  • Mengembangkan komponenkomponen rancangan pembelajaran.
  • Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam Sekolah, laboratorium, maupun lapangan.

 

Dalam kurikulum 2006, guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, bahkan membuat sendiri atau bersama-sama dengan guru-guru lain dalam mata pelajaran yang sama, silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya, dan menjabarkannya menjadi persiapan mengajar yang siap dijadikan pedoman pembentukan kompetensi peserta didik.

 

2.1.2 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di Sekolah, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.

Silabus merupakan pegangan guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang sifatnya masih umum/luas. Silabus tersebut sebaiknya disusun sebagai program yang harus dicapai selama satu semester atau satu tahun ajaran. Untuk pegangan dalam jangka waktu yang lebih pendek, guru harus membuat program pembelajaran yang disebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). RPP ini merupakan satuan atau unit program pembelajaran terkecil untuk jangka waktu mingguan atau harian yang berisi rencana penyampaian suatu pokok atau satuan bahasan tertentu atau satu tema yang akan dibahas.

Isi dan alokasi waktu setiap RPP ini tergantung kepada luas dan sempitnya pokok/satuan bahasan yang dicakupnya. Misalnya suatu pokok/satuan bahasan yang membutuhkan waktu hanya 2 jam pelajaran, mungkin bisa selesai diajarkan dalam satu kali pertemuan saja. Tetapi pokok/satuan bahasan yang membutuhkan waktu 4 jam pelajaran perlu disampaikan dalam dua kali pertemuan. Supaya tidak terlalu kaku/rigid, tidak perlu membuat RPP untuk setiap kali pertemuan secara terpisah-pisah, namun bisa diatur untuk satu RPP misalnya mencakup materi pembelajaran untuk 3-4 kali pertemuan.

Komponen-komponen RPP ini lebih rinci dan lebih spesifik dibandingkan dengan komponen-komponen dalam silabus. Bentuk RPP yang dikembangkan pada berbagai daerah atau sekolah mungkin berbeda-beda, tetapi isi dan prinsipnya seharusnya sama. Komponen minimal yang ada dalam RPP adalah tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, penilaian hasil belajar.

2.1.3 Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses yang ditata dan diatur sedemikian rupa, menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan. Pengaturan tersebut dituangkan dalam bentuk perencanaan pembelajaran. Setiap perencanaan selalu berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi mengenai apa yang diperlukan dan apa yang akan dilakukan. Demikian halnya, perencanaan pembelajaran memperkirakan atau memproyeksikan mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Mungkin saja dalam pelaksanaannya tidak begitu persis seperti apa yang telah direncanakan, karena proses pembelajaran itu sendiri bersifat situasional. Namun, apabila perencanaan sudah disusun secara matang, maka proses dan hasilnya tidak akan terlalu jauh dari apa yang sudah direncanakan. Istilah perencanaan pembelajaran yang saat ini digunakan berkaitan dengan penerapan KTSP di sekolah-sekolah di Indonesia yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada waktu yang lalu dikenal istilah satuan pelajaran (satpel), rencana pelajaran (renpel), dan istilah-istilah sejenis lainnya.

Secara garis besar perencanaan pengajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan apa yang akan dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang dipakai untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, materi/bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, serta alat atau media apa yang diperlukan (Ibrahim 1993:2).

Untuk mempermudah proses belajar-mengajar diperlukan perencanaan pengajaran. Perencanaan pengajaran dapat dikatakan sebagai pengembangan instruksional sebagai sistem yang terintegrasi dan terdiri dari beberapa unsur yang saling berinteraksi (Toeti Soekamto,1993: 9).

Perencanaan pengajaran dapat dikatakan sebagai pedoman mengajar bagi guru dan pedoman belajar bagi siswa. Melalui perencanaan pengajaran dapat diidentifikasi apakah pembelajaran yang dikembangkan/dilaksanakan sudah menerapkan konsep belajar siswa aktif atau mengembangkan pendekatan keterampilan proses.

Gambaran aktivitas siswa akan terlihat pada rencana kegiatan atau dalam rumusan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang terdapat dalam perencanaan pengajaran. Kegiatan belajar dan mengajar yang dirumuskan oleh guru harus mengacu pada tujuan pembelajaran. Sehingga perencanaan pengajaran merupakan acuan yang jelas, operasional, sistematis sebagai acuan guru dan siswa berdasarkan kurikulum yang berlaku.Istilah pengajaran yang digunakan dalam pengertian di atas sebaiknya diubah dengan pembelajaran, untuk memberi tekanan pada aktivitas belajar yang dilakukan siswa.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas maka rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.

  1. Unsur Pokok dalam RPP

Unsur-unsur pokok yang terkandung dalam RPP meliputi:

  1. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran, Sekolah, semester, dan waktu/ banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
  2. Kompetensi dasar dan indikator-indikator yang hendak dicapai.
  3. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
  4. Kegiatan pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator).
  5. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
  6. Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa serta tindak lanjut hasil penilaian).
  1. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP

RPP pada dasarnya merupakan kurikulum mikro yang menggambarkan tujuan/kompetensi, materi/isi pembelajaran, kegiatan belajar, dan alat evaluasi yang digunakan. Efektivitas RPP tersebut sangat dipengaruhi beberapa prinsip perencanaan pembelajaran berikut:

a. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kondisi siswa.

b. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.

c. Perencanaan pembelajaran harus memperhitungkan waktu yang tersedia

d. Perencanaan pembelajaran harus merupakan urutan kegiatan pembelajaran yang sistematis.

e. Perencanaan pembelajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja/tugas dan atau lembar observasi.

f. Perencanaan pembelajaran harus bersifat fleksibel.

g. Perencanaan pembelajaran harus berdasarkan pada pendekatan system yang mengutamakan keterpaduan antara tujuan/kompetensi, materi, kegiatan belajar dan evaluasi.

Prinsip-prinsip tersebut harus dijadikan landasan dalam penyusunan RPP. Selain itu, secara praktis dalam penyusunan RPP, seorang guru harus sudah menguasai bagaimana menjabarkan kompetensi dasar menjadi indikator, bagaimana dalam memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar, bagaimana memilih alternatif metode mengajar yang dianggap paling sesuai untuk mencapai kompetensi dasar, dan bagaimana mengembangkan evaluasi proses dan hasil belajar.

  1. Langkah-langkah Penyusunan RPP

Dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

    1. Mengisi kolom identitas
    2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
    3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun.
    4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan (lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indicator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi). Rumusan tujuan pembelajaran tidak menimbulan penafsiran ganda.
    5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaranyang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran
    6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
    7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. Langkah-langkah pembelajaran berupa rincian skenario pembelajaran yang mencerminkan penerapan strategi pembelajaran termasuk alokasi waktu setiap tahap. Dalam merumuskan langkah-langkah pembelajaran juga harus mencerminkan proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.
    8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan.
    9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll. Tuliskan prosedur, jenis, bentuk, dan alat/instrumen yang digunakan untuk menilai pencapaian proses dan hasil belajar siswa, serta tindak lanjut hasil penilaian, seperti: remedial, pengayaan, atau percepatan. Sesuaikan dengan teknik penilaian berbasis Sekolah, seperti: penilaian hasil karya (product), penugasan (project), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper & pen).

Berkaitan dengan penyusunan RPP ini, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh para guru, yaitu:

a. Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional untuk seluruh mata pelajaran harus dijadikan acuan utama dalam merumuskan komponen-komponen RPP. Karena itu, rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar sekalipun sudah dituliskan dalam silabus, perlu tetap dituliskan kembali dalam RPP agar dapat terlihat secara langsung keterkaitannya dengan komponen yang lainnya dan menjadi titik tolak untuk menentukan materi pembelajaran, indikator ketercapaian kompetensi, media, metoda, kegiatan pembelajaran serta menentukan cara penilaian.

b. Penjabaran kompetensi dasar menjadi indikator-indikator ketercapaian kompetensi perlu dipahami oleh guru. Setelah itu guru harus mampu menuliskannya dalam RPP dengan menggunakan rumusan-rumusan yang tepat, terukur, dan operasional. Ketidakmampuan guru dalam merumuskan indikator-indikator tersebut akan mempengaruhi pencapaian kompetensi dasar, yang akhirnya berakibat terhadap rendahnya kemampuan yang dimiliki siswa.

c. Dalam penentuan materi pembelajaran pada umumnya guru sering menjadikan buku teks sebagai titik tolak dan sumber utama pembelajaran. Hal ini akan membawa akibat bahwa seluruh proses pembelajaran akan berada di sekitar buku teks tersebut. Dalam RPP yang dikembangkan, sebenarnya buku teks hanya merupakan salah satu sumber. Sumber itu tidak hanya hanya buku, namun ada buku, alat, manusia, lingkungan maupun teknik yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Sebenarnya dengan adanya kompetensi dasar dan indikator akan memudahkan penentuan materi. Apabila kompetensi dasar dan indikator ada dalam kawasan belajar kognitif, maka sifat materi yang akan disajikanpun akan berkenaan dengan pengetahuan ataupun pemahaman. Demikian pula halnya untuk kawasan belajar afektif maupun psikomotor. Materi pembelajaran ini dapat diuraikan secara terinci atau cukup dengan pokok-pokok materi saja, dan materi terinci nantinya dapat dilampirkan. Materi pembelajaran sifatnya bermacam-macam ada yang berupa informasi, konsep, prinsip, keterampilan dan sikap. Sifat dan materi tersebut akan membawa implikasi terhadap metoda yang akan digunakan dan kegiatan belajar yang harus ditempuh oleh siswa.

d. Dalam penentuan atau pemilihan kegiatan pembelajaran perlu disesuaikan metoda mana yang paling efektif, efesien, dan relevan dengan pencapaian kompetensi dasar dan indikator. Penentuan metode pembelajaran harus memungkinkan terlaksananya cara belajar siswa aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Guru perlu memilih kegiatan-kegiatan pembelajaran yang benar-benar efektif dan efesien dengan mempertimbangkan:

1) Karakteristik kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.

2) Keadaan siswa, mencakup perbedaan-perbedaan individu siswa sepert kemampuan belajar, cara belajar, latar belakang, pengalaman, dan kepribadiannya.

3) Jenis dan jumlah fasilitas/sumber belajar yang tersedia untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran.

4) Sifat dan karakteristik masing-masing metode yang dipilih untuk mencapai kompetensi dasar.

2.4 Supervisi Akademik

Begitu sangat strategisnya kedudukan guru sebagai tenaga profesional, di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tepatnya Bab III Pasal 7, diamanatkan bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

  1. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
  2. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,ketakwaan, dan akhlak mulia
  3. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
  4. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
  5. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
  6. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
  7. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
  8. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan;
  9. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Lebih lanjut di dalam bab dan pasal yang sama juga diamanatkan bahwa pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.

Salah satu program yang dapat diselenggarakan dalam rangka pemberdayaan guru adalah supervisi akademik. Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan yang membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan akademik. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan akademik. Dengan demikian, berarti, esensial supervisi akademik adalah membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya. Mengembangkan kemampuan dalam konteks ini janganlah ditafsirkan secara sempit, semata-mata ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen(commitmen) atau kemauan (willingness) atau motivasi (motivation) guru, sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas akademik akan meningkat.

Di dalam Peraturan menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah ditegaskan bahwa salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah adalah kompetensi supervisi. Dengan Permendiknas tersebut berarti seorang kepala sekolah harus kompeten dalam melakukan supervisi akademik terhadap guru-guru yang dipimpinnya. Salah satu tugas Kepala Sekolah adalah melaksanakan supervisi akademik. Untuk melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan teknikal (Glickman, at al; 2007).

Oleh sebab itu, setiap Kepala Sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik.

  1. Konsep supervisi akademik

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan yang membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran (Daresh, 1989, Glickman, et al; 2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran.

Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam Sekolah?, apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam Sekolah?, aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam Sekolah itu yang bermakna bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian kinerja bukan berarti selesailah pelaksanaan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

  1. Tujuan dan fungsi supervisi akademik

Tujuan supervisi akademik adalah:

  1. membantu guru mengembangkan kompetensinya,
  2. mengembangkan kurikulum,
  3. mengembangkan kelompok kerja guru, dan membimbing penelitian tindakan Sekolah (PTK) (Glickman, et al; 2007, Sergiovanni, 1987).

Supervisi akademik merupakan salah satu (fungsi mendasar (essential function) dalam keseluruhan program sekolah (Weingartner, 1973; Alfonso dkk., 1981; dan Glickman, et al; 2007). Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.

  1. Prinsip-prinsip supervisi akademik
  1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.

b. Sistematis artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.

  1. Objektif artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
  2. Realistis artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
  3. Antisipatif artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
  4. Konstruktif artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.
  5. Kooperatif artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
  6. Kekeluargaan artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
  7. Demokratis artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
  8. Aktif artinya guru dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
  9. Humanis artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor.
  10. Berkesinambungan artinya supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala serkolah.

m. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.

  1. Komprehensif artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik di atas (Dodd,1972).
  1. Dimensi-dimensi subtansi supervisi akademik
  1. Kompetensi kepribadian.
  2. Kompetensi pedagogik.
  3. Kompotensi profesional.
  4. Kompetensi sosial.

 

  1. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Menurut Gwynn, ada tiga belas teknik supervisi

kelompok, sebagai berikut:

 

1. Kepanitiaan-kepanitiaan

2. Kerja kelompok

3. Laboratorium kurikulum

4. Baca terpimpin

5. Demonstrasi pembelajaran

6. Darmawisata

7. Kuliah/studi

8. Diskusi panel

9. Perpustakaan jabatan

10. Organisasi profesional

11. Buletin supervisi

12. Pertemuan guru

13. Lokakarya atau konferensi kelompok

 

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa supervisi akademik sama sekali bukan penilaian unjuk kerja guru. Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka.

Hal ini sangat berbeda dengan konsep supervisi akademik. Secara konseptual, supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran,melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.

Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi mutu kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Agar supervisi akademik dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya, maka untuk pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya.

BAB III METODE PENELITIAN

    1. Setting penelitian

Penelitian dilakukan di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2013. SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur berada di kota Tamiang Layang yang merupakan Ibukota Kabupaten Barito Timur, memiliki fasilitas yang dibilang belum lengkap. Guru SDN 2 Tamiang Layang berjumlah 11 (sebelas) orang, terdiri dari 1 (satu) Orang Kepala Sekolah, dan sisanya guru kelas dengan jumlah siswa sebanyak 102 siswa.

    1. Obyek Penelitian

Penelitian ini ditujukan kepada semua guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur yang berjumlah 10 orang terdiri dari 3 (tiga) laki-laki dan 7 (tujuh) perempuan. Adapun daftar nama-nama guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Tamiang Layang seperti pada tabel berikut:

Tabel.1. Daftar Guru SDN 2 Tamiang Layang

No

Nama Guru

Jenis Kelamin

Ket

1

Manir Sinipar, S.Pd

Perempuan

 

2

Salasiah S.Pd

Perempuan

 

3

Saukani, S.Pd

Laki-laki

 

4

Ira, S.Pd

Perempuan

 

5

Hatri, S.Pd

Perempuan

 

6

Gunter Ceria, S.Pd

Perempuan

 

7

Noorkhalis, S.Pd.I

Laki-laki

 

8

Setri, S.Pd.I

Perempuan

 

9

M. Yusri, S.Pd.I

Laki-laki

 

10

Tiarni, S.Pd

Perempuan

 

 

Jumlah

10 orang

 

 

  1. Prosedur Penelitian

Langkah-langkah penelitian tindakan yang dilakukan meliputi: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Menurut John Elliot (dalam Kurnasih dan Sani, 2012:32) langkah-langkah Penelitian Tindakan ini dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

 

Refleksi-I

Pengamatan/ Pengumpulan Data-I

Perencanaan Tindakan-II

Pelaksanaan tindakan-II

Refleksi-II

Pengamatan/ pengumpulan Data-II

Permasalahan baru, hasil refleksi

Bila permasalahan belum terselesaikan

Dilanjutkan ke siklus berikutnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Langkah-langkah Penelitian Tindakan

 

  1. Siklus 1
  1. Perencanaan

Penelitian tindakan ini melibatkan semua guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur. Hal ini perlu dilakukan karena para guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilakukan di Sekolah sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Kegiatan ini dilakukan di sekolah dengan pengaturan waktu yang lebih fleksibel sehingga tidak mengganggu jadwal kegiatan pembelajaran. Sarana yang digunakan dalam kegiatan ini adalah silabus yang telah disusun oleh setiap guru mata pelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh guru yang bersangkutan sesuai dengan Standar kompetensi dan Kompetensi dasar pada masing-masing mata pelajaran. RPP inilah yang menjadi bahan acuan untuk menentukan materi pembinaan terhadap masing-masing guru, dan sekaligus menjadi alat ukur keberhasilan penelitian.

Kegiatan ini dilakukan dalam dua siklus hingga guru dinilai memiliki kemampuan untuk menyusun perencanaan pembelajaran yang baik. Dalam setiap siklus supervisor melakukan observasi dan penilaian terhadap perkembangan kemampuan setiap guru.

  1. Pelaksanaan

Penelitian diawali dengan cara menyerahkan rencana pembelajaran yang disusun sesuai dengan mata pelajaran dan standar kompetensi masing masing guru kepada supervisor. Berdasarkan data tersebut supervisor melakukan pembinaan kepada guru sesuai dengan kesulitan masing masing guru.

Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian.

Guru melakukan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

 

  1. Mencantumkan identitas
    • Nama sekolah
    • Mata Pelajaran
    • Sekolah/Semester
    • Standar Kompetensi
    • Kompetensi Dasar
    • Indikator
    • Alokasi Waktu

 

Catatan:

    • RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
    • Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan
    • Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya.
  1. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.

  1. Mencantumkan Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.

  1. Mencantumkan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.

  1. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

  1. Mencantumkan Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

  1. Mencantumkan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.

  1. Pengamatan

 

Selama proses penyusunan RPP, guru berdiskusi dengan supervisor/pembina, bila menemukan masalah atau kendala dalam kegiatannya. Hasil dari kegiatan ini akan dinilai oleh supervisor/pembina dengan menggunakan lembar observasi penilaian untruk memperoleh data tentang perkembangan kemampuan guru

  1. Refleksi

Dalam kegiatan refleksi ini, supervisor/pembina bersama dengan guru guru melakukan diskusi tentang unsur-unsur RPP dan langkah langkah kegiatan penyusunan dan pengembangannya.Dalam kegiatan ini juga dibicarakan berbagai permasalahan yang dirasakan oleh para guru termasuk kendala serta manfaat yang dirasakan terhadap perubahan kemampuan mereka dalam penyusunan RPP.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan refleksi ini akan dijadikan sebagai bahan perencanaan dan tindakan yang akan dilakukan pada siklus berikutnya.

  1. Siklus 2

Kegiatan Perencanaan berdasarkan pada refleksi dari siklus 1, sementara untuk langkah-langkah kegiatan tindakan dan pengamatan sama dengan siklus 1 dengan memperhatikan prioritas permasalahan yang disimpulkan pada siklus 1 dan dilanjutkan dengan kegiatan refleksi. Apabila hasil refleksi pada siklus 2 sudah menunjukan adanya peningkatan kemampuan guru secara signifikan, maka kegiatan penelitian dianggap berhasil, tetapi sebaliknya apabila belum menunjukan hasil yang di harapkan, maka kegiatan penelitian akan dilanjutkan dengan siklus berikutnya dengan langkah-langkah kegiatan yang sama dengan kegiatan pada siklus 2 ini.

 

    1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian lembar observasi selama proses tindakan penelitian oleh supervisor sehingga akan diperoleh data kualitatif sebagai hasil penelitian.

    1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi yang digunakan oleh supervisor untuk mencatat perkembangan kemampuan masing masing guru yang dibinanya selama proses penelitian (siklus 1 dan siklus 2).

3.7 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dilakukan terhadap hasil RPP guru sebagai data awal kemampuan guru dan hasil observasi yang dilakukan selama proses pembinaan akan dianalisis secara deskriptif untuk mengukur keberhasilan proses pembinaan sesuai dengan tujuan penelitian tindakan sekolah ini.

    1. Kriteria Keberhasilan
      1. Merumuskan indikator tujuan pembelajaran yang efektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar ≥ 70%.
      2. Memilih strategi dan metode pembelajaran ≥ 70%.
      3. Menentukan teknik dan metode penilaian yang bisa mengukur pencapaian tujuan pembelajaran ≥ 70%.
      4. Menentukan bahan belajar/ materi dan Media pembelajaran ≥ 70%.
      5. Menentukan kegiatan pembelajaran secara terinci atas langkah-langkah dan alokasi waktu yang dibutuhkan ≥ 70%.

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi Kondisi Awal

1. Perencanaan

Pada tahapan ini peneliti mempersiapan instrumen untuk menggali data seberapa jauh para guru menguasai komptensinya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sesuai dengan standar penyusunan RPP yang ada.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini dilaksanakan pada bulan Juli 2013, yaitu studi dokumen terhadap RPP yang telah disusun oleh semua guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur, yang secara idealnya pada awal Tahun Pelajaran semua Guru harus sudah siap dengan RPP untuk melaksanakan Pembelajaran di kelas.

3. Pengamatan

Dengan menggunakan instrumen yang sudah dipersiapkan pada tahap ini dilakukan studi dokumen untuk melihat apakah RPP yang telah disusun oleh semua guru telah sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Berdasarkan data awal yang diperoleh pada kegiatan penelitian ini, menunjukkan bahwa:

Tabel 2. Data Hasil Tes Awal sebelum Penelitian Tindakan Sekolah

Dilakukan terhadap Guru-guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan

Dusun Timur.

NO

NAMA

MENENTUKUAN

RATA- RATA

Tujuan

Materi

Metode

Media

Evalu

asi

1

Manir Sinipar, S.Pd

60

60

60

60

40

56

2

Salasiah S.Pd

60

60

60

60

40

56

3

Saukani, S.Pd

60

40

60

60

40

52

4

Ira, S.Pd

60

40

60

60

40

52

5

Hatri, S.Pd

60

40

60

60

60

56

6

Gunter Ceria, S.Pd

80

60

60

60

60

64

7

Noorkhalis, S.Pd.I

60

40

60

60

40

52

8

Setri, S.Pd.I

60

40

60

60

60

56

9

M. Yusri, S.Pd.I

60

40

60

60

40

52

10

Tiarni, S.Pd

60

40

60

40

40

48

Jumlah Per Aspek

620

460

600

580

460

 

Rata-Rata Per Aspek

62

46

60

58

46

272

Skor Rata-Rata

 

 

54,4

 

Berdasarkan tabel di atas kemampuan guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur adalah sebagai berikut:

  1. 62% guru dalam merumuskan indikator tujuan pembelajaran yang efektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar masing-masing mata pelajaran.
  2. 46% Guru dapat memilih strategi dan metode pembelajaran
  3. 60% Guru dapat menentukan teknik dan metode penilaian yang bisa mengukur pencapaian tujuan pembelajaran.
  4. 58% guru dapat menentukan bahan belajar/ materi pembelajaran.
  5. 46,% guru dapat menyusun evaluasi belajar.

 

Untuk jelasnya perolehan data hasil penelitian dapat dilihat pada grafik kemampuan guru pada awal kegiatan berikut:

Grafik 1 Kemampuan Guru dalam Penyusunan RPP

 

4. Refleksi

Berdasarkan pada data tersebut, maka dilakukan tindakan pada siklus I dengan titik berat pada kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dengan cara memberikan penjelasan contoh-contoh yang relevan.

 

4.1.2 Deskripsi Hasil Siklus I

1. Perencanaan

Pada tahapan ini peneliti mempersiapan supervisi akademik yang memfokuskan pada kelemahan-kelemahan pada hasil awal sebelum diberi tindakan dan instrumen dipersiapka untuk menggali data seberapa jauh para guru menguasai komptensinya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sesuai dengan standar penyusunan RPP yang ada.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2013, yaitu melaksanakan supervisi akademik kepada guru yang masih jauh kompetensi dari yang diharapkan dan melaksanakan studi dokumen terhadap RPP yang telah disusun oleh semua guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur, semua Guru harus sudah siap dengan RPP untuk melaksanakan Pembelajaran di Sekolah.

3. Pengamatan

Melaksanakan studi dokumen terhadap RPP yang telah disusun oleh semua guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur setelah dilakukan supervisi akademik secara individual. Dan diperoleh peningkatan kemampuan guru sebagai berikut:

Tabel 3. Data Hasil Tes Siklus I Penelitian Tindakan Sekolah

Dilakukan terhadap Guru-guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan

Dusun Timur

NO

NAMA

MENENTUKUAN

RATA- RATA

Tujuan

Materi

Metode

Media

Evalu

asi

1

Manir Sinipar, S.Pd

60

60

60

60

60

60

2

Salasiah S.Pd

80

80

80

60

60

72

3

Saukani, S.Pd

60

80

60

60

60

64

4

Ira, S.Pd

80

80

60

60

40

64

5

Hatri, S.Pd

80

60

60

60

60

64

6

Gunter Ceria, S.Pd

60

80

60

60

60

64

7

Noorkhalis, S.Pd.I

60

60

60

80

60

64

8

Setri, S.Pd.I

80

60

60

60

60

64

9

M. Yusri, S.Pd.I

60

60

80

80

60

68

10

Tiarni, S.Pd

60

60

60

80

60

64

Jumlah Per Aspek

680

680

640

660

580

 

Rata-Rata Per Aspek

68

68

64

66

58

324

Skor Rata-Rata

 

 

64,8

 

Berdasarkan tabel di atas kemampuan guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur adalah sebagai berikut:

  1. 68% guru dalam merumuskan indikator tujuan pembelajaran yang efektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar masing-masing mata pelajaran.
  2. 68% Guru dapat memilih strategi dan metode pembelajaran
  3. 64% Guru dapat menentukan teknik dan metode penilaian yang bisa mengukur pencapaian tujuan pembelajaran.
  4. 66% guru dapat menentukan bahan belajar/ materi pembelajaran.
  5. 58% guru dapat menyusun evaluasi belajar.

Untuk jelasnya perolehan data hasil penelitian dapat dilihat pada grafik peningkatan hasil setelah siklus 1 berikut:

Grafik 2 Kemampuan Perencanaan Pembelajaran Siklus 1

 

 

4. Refleksi

Melihat hasil yang diperoleh pada refleksi kegiatan siklus 1, maka perlu dilakukan tindakan penelitian pada siklus 2 dengan tujuan untuk lebih meningkatkan dan menguatkan kemampuan guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hingga semua kriteria bisa mencapai hasil minimal 70% karena pada siklus I baru 1 komponen yang telah mencapai hasil minimal 70%.

 

4.1.3 Deskripsi Hasil siklus II

1. Perencanaan

Pada tahapan ini peneliti mempersiapan supervisi akademik yang lebih memfokuskan pada kelemahan-kelemahan pada hasil awal sebelum diberi tindakan dan instrumen dipersiapka untuk menggali data seberapa jauh para guru menguasai komptensinya dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sesuai dengan standar penyusunan RPP yang ada.

2. Pelaksanaan

Pada tahap ini dilaksanakan pada bulan September 2013, yaitu melaksanakan supervisi akademik kepada guru yang masih jauh kompetensi dari yang diharapkan dan melaksanakan studi dokumen terhadap RPP yang telah disusun oleh semua guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur, semua Guru harus sudah siap dengan RPP untuk melaksanakan Pembelajaran di Sekolah.

3. Pengamatan

Pada akhir kegiatan siklus diperoleh hasil yang cukup menggembirakan yang memberikan indikasi tercapainya tujuan penelitian tindakan ini. Hasil yang diperoleh dapat kita lihat sebagai berikut:

Tabel 4.Data Hasil Tes Siklus II Penelitian Tindakan Sekolah

Dilakukan terhadap Guru-guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan

Dusun Timur

NO

NAMA

MENENTUKUAN

RATA- RATA

Tujuan

Materi

Metode

Media

Evalu

Asi

1

Manir Sinipar, S.Pd

60

80

80

80

60

72

2

Salasiah S.Pd

80

80

80

80

80

80

3

Saukani, S.Pd

60

80

80

80

60

72

4

Ira, S.Pd

80

60

60

80

80

72

5

Hatri, S.Pd

80

80

80

60

80

76

6

Gunter Ceria, S.Pd

60

80

80

80

60

72

7

Noorkhalis, S.Pd.I

80

80

80

60

80

76

8

Setri, S.Pd.I

60

80

80

80

60

72

9

M. Yusri, S.Pd.I

80

80

80

60

80

76

10

Tiarni, S.Pd

60

80

80

80

60

72

Jumlah Per Aspek

700

780

780

740

700

 

Rata-Rata Per Aspek

70

78

78

74

70

370

Skor Rata-Rata

 

 

74

 

Berdasarkan tabel di atas kemampuan guru SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun TimurTamiang Layang adalah sebagai berikut:

  1. 70% guru dalam merumuskan indikator tujuan pembelajaran yang efektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar masing-masing mata pelajaran.
  2. 78% Guru dapat memilih strategi dan metode pembelajaran
  3. 78% Guru dapat menentukan teknik dan metode penilaian yang bisa mengukur pencapaian tujuan pembelajaran.
  4. 74% guru dapat menentukan bahan belajar/ materi pembelajaran.
  5. 70% guru dapat menyusun evaluasi belajar.

Untuk jelasnya perolehan data hasil penelitian dapat dilihat pada grafik kemampuan guru setelah siklus 2 berikut:

 

 

 

 

Grafik 3 Kemampuan Guru Setelah Siklus 2

 

4. Refleksi

Berdasarkan hasil penelitian di atas didapatkan bahwa hasil siklus II mengalami kemajuan daripada siklus I, baik dalam perumusan Tujuan pembelajaran, penentuan bahan ajar, penentuan strategi/metode, penentuan media/alat maupun teknik evaluasi dengan rata-rata sebesar 74%.

    1. Pembahasan

Dari data yang dikumpulkan sebelum dan selama proses penelitian tindakan, kita dapat melihat adanya peningkatan Komptensi Pedagogik guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur pada masing-masing komponen perencanaan pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Pada komponen Perumusan indikator tujuan pembelajaran, terlihat peningkatan dari 62% pada kemampuan awal, menjadi 68% pada siklus 1 dan meningkat menjadi 70% pada akhir kegiatan, seperti yang tampak pada grafik berikut:

 

Grafik 4 Peningkatan kemampuan dalam Perumusan Tujuan

Pembelajaran

  1. Pada Komponen Penentuan bahan dan materi pembelajaran, terdapat peningkatan kemampuan dari 46% menjadi 68% setelah siklus 1 dan lebih menguat menjadi 78% setelah siklus 2, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada grafik berikut:

Grafik 5 Peningkatan Kemampuan dalam Penentuan Bahan dan Materi

Pembelajaran

 

  1. Dalam Komponen Pemilihan Strategi dan metoda pembelajaran, yang didalamnya memuat langkah-langkah pembelajaran dan penentuan alokasi waktu yang digunakan,terlihat adanya peningkatan yang signifikan dari yang semula hanya 60% menjadi 64% pada siklus 1 dan meningkat lagi menjadi 78% setelah siklus 2. Gambarannya dapat kita lihat pada grafik berikut ini:

Grafik 6 Peningkatan Kemampuan dalam Penentuan Strategi dan

Metoda Pembelajaran.

 

 

 

  1. Meskipun tidak terlihat adanya peningkatan yang cukup tajam, namun dalam komponen pemilihan media dan alat pembelajaran terdapat adanya peningkatan dari 58% pada awal kegiatan, 66% setelah siklus 1, menjadi 74% setelah siklus 2. Untuk jelasnya dapat kita lihat pada grafik berikut ini:

Grafik 7 Peningkatan Kemampuan dalam Pemilihan Media dan Alat

Pembelajaran

  1. Peningkatan yang cukup signifikan juga dapat kita lihat pada komponen perencanaan evaluasi pembelajaran. Dari yang semula hanya 46% pada awal kegiatan, menjadi 58% pada akhir siklus 1 dan berhasil mencapai 70% pada akhir siklus 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik 8 Peningkatan kemampuan dalam Perencanaan Evaluasi

Pembelajaran

 

 

 

 

Berdasarkan data di atas dapat direkapitulasi hasil tindakan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dari Keadaan awal, Siklus I dan Siklus II adalah sebagai berikut:

        1. Merumuskan indikator tujuan pembelajaran yang efektif sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, dari Kondisi awal sebesar 62%, Siklus I sebesar 68% dan Siklus II sebesar 70%.
        2. Memilih strategi dan metode pembelajaran, dari Kondisi awal sebesar 46%, Siklus I sebesar 68% dan Siklus II sebesar 78%.
        3. Menentukan teknik dan metode penilaian yang bisa mengukur pencapaian tujuan pembelajaran dari Kondisi awal sebesar 60%, Siklus I sebesar 64% dan Siklus II sebesar 78%.
        4. Menentukan bahan belajar/ materi dan Media pembelajaran, dari Kondisi awal sebesar 58%, Siklus I sebesar 66% dan Siklus II sebesar 74%.
        5. Menentukan kegiatan pembelajaran secara terinci atas langkah-langkah dan alokasi waktu yang dibutuhkan, dari Kondisi awal sebesar 46%, Siklus I sebesar 58% dan Siklus II sebesar 70%.

 

BAB V PENUTUP

    1. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Supervisi Akademik dapat Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Guru di SDN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat kami sarankan adalah sebagai berikut:

  1. Bagi yang mengalami kesulitan yang sama dapat menerapkan Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Menyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  2. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan supervisi akademik dapat dilaksanakan secara lebih intensif dan berkelajutan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta : PT Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1982. Alat Penilaian Kemampuan Guru: Buku I. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

______. 1982. Panduan Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

______. Alat Penilaian Kemampuan Guru: Hubungan antar Pribadi. Buku III. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

______. Alat Penilaian Kemampuan Guru: Prosedur Mengajar. Buku II. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.

Kurniasih, Imas dan Sani, Berlin. 2014. Teknik dan cara mudah membuat Penelitian Tindakan Sekolah. Yogyakarta: PT Katapena

Rusman. 2014. Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Suhardjono, A. Azis Hoesein, dkk. 1995. Pedoman penyusunan KTI di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Digutentis, Jakarta : Diknas

Suhardjono. 2005. Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Sekolah sebagai KTI, makalah pada Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di LPMP Makasar, Maret 2005

Suhardjono. 2009. Tanya jawab tentang PTK dan PTS, naskah buku.

Supardi. 2005. Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Sekolah, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment