Contoh Laporan PTK Metode Scramble, Guru SMK Mata Pelajaran Agama Kristen Kelas 10
Penelitian Tindakan Kelas

Gambar : dok.pribadi
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul:“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Berpikir Kreatif dan Kritis Melalui Model Pembelajaran Scramble Siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang”.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Berpikir Kreatif dan Kritis Melalui Model Pembelajaran Scramble Siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan (action Research) yang terdiri dari 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan bahwa Model Pembelajaran Scramble dapat Meningkatkan Hasil BelajarMateri Berpikir Kreatif dan Kritis Siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang Kecamatan Dusun Timur Kabupaten Barito Timur.
Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Bagi Guru yang mendapatan kesulitan yang sama dapat menerapkan Model Pembelajaran Scramble untuk meningkatkan Hasil Belajar Materi Berpikir Kreatif dan Kritis Siswa Kelas X. (2) Agar mendapatkan hasil yang maksimal maka dihaharapkan guru lebih memahami Model Pembelajaran Scramble.
Kata kunci: Hasil Belajar, Metode, Scramble
BAB I PENDAHULUAN
-
- Latar Belakang Masalah
Manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang kearah kedewasaan, baik jasmani maupun rohani. Manusia memerlukan pendidikan untuk menggerakkan dan mengembangkan potensi serta kemampuan dasar tersebut kepada pola yang dikendalikan.Pendidikan merupakan salah satu faktor yang fundamental dalam pembangunan, karena kemajuan bangsa erat kaitannya dengan masalah pendidikan. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau bangsa Indonesia begitu besar perhatiannya terhadap masalah pendidikan, bahkan tujuannyapun semakin disempurnakan.Ini sesuai dengan ketentuan yang dimuat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Secara garis besar, pendidikan sebagai suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi manusia seutuhnya berjiwa Pancasila.Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional juga menyatakan sebagai berikut:
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Disamping itu, pendidikan juga merupakan suatu sarana yang paling efektif dan efisien dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk mencapai suatu dinamika yang diharapkan.
Berdasarkan hasil ulangan harian yang dilakukan di Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, diperoleh informasi bahwa hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa rendah di bawah standar ketuntasan yaitu dibawah 75.
Faktor-faktor yang menyebabkan keadaan seperti di atas antara lain :
- Kemampuan kognitif siswa dalam pemahaman konsep – konsep Pendidikan Agama Kristen masih rendah,
- Pembelajaran yang berlangsung cenderung masih monoton dan membosankan,
- Siswa tidak termotivasi untuk belajar Pendidikan Agama Kristen dan menganggap Pendidikan Agama Kristen hanya sebagai hafalan saja.
Dengan belajar secara menghapal membuat konsep – konsep Pendidikan Agama Kristen yang telah diterima menjadi mudah dilupakan. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh seorang guru. Guru dituntut lebih kreatif dalam mempersiapkan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Dikembangkan, misal dalam pemilihan model pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran sebagai salah satu bentuk strategi pembelajaran. Kesiapan guru dalam memanajemen pembelajaran akan membawa dampak positif bagi siswa diantaranya hasil belajar siswa akan lebih baik dan sesuai dengan indikator yang ingin dicapai.Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah model pembelajaran kooperatif tipe Scramble karena siswa dapat terlibat aktif karena memiliki peran dan tanggung jawab masing–masing, sehingga aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung meningkat.
Model Pembelajaran Scramble tampak seperti model pembelajaran word square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi jawaban sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat/benar. Scramble merupakan suatu metode mengajar dengan membagikan lembar soal dan lembar jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia. Siswa diharapkan mampu mencari jawaban dan cara penyelesaian dari soal yang ada.
Berdasarkan uraian diatas, maka sebagai peneliti merasa penting melakukan penelitian terhadap masalah di atas. Oleh karena itu, upaya meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa dilakukan penelitian Tindakan Kelas dengan judul :“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Berpikir Kreatif dan Kritis Melalui Model Pembelajaran Scramble Siwa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang“.
-
- Perumusan Masalah
Memperhatikan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan permsalahan sebagai berikut : “Bagaimanakah Model pembelajaran tipe Scramble dapat meningkatkan hasil belajar pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang?”
-
- Tujuan Penelitian
Meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen menggunakan model pembelajaran Scramble pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang.
1.4 Manfaat Penelitian
Setelah penelitian selesai diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
- Bagi peneliti : penelitian ini dapat mempengaruhi pembelajaran, membantu untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Kristen siswa, memberikan alternative pembelajaran yang aktif, kreatif efektif, dan menyenangkan bagi siswa, serta meningkatkan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
- Bagi siswa : untuk meningkatkan pemahaman konsep Pendidikan Agama Kristen dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari – hari sehingga pelajaran Pendidikan Agama Kristen menjadi lebih sederhana.
- Bagi sekolah : penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
-
- Kajian Teori
- Pengertian Hasil Belajar
- Kajian Teori
Menurut Sudjana (2012: 46) pengertian hasil belajar adalah “kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya”.Bloom (dalam Nana Sudjana, 2012: 53) membagi tiga ranah hasil belajar yaitu :
- Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
- Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi, dan internalisasi.
- Ranah Psikomotorik
Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemauan bertindak, ada enam aspek, yaitu : gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, ketrampilan membedakan secara visual, ketrampilan dibidang fisik, ketrampilan komplek dan komunikasi.
Hasil belajar yang dicaPendidikan Agama Kristen siswa dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu :
- Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya,
motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.
- Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.
Hasil belajar yang dicapai menurut Nana Sudjana, melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukan dengan ciri – ciri sebagai berikut.
- Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar
intrinsic pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi rendah
dan ia akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau
setidaknya mempertahankanya apa yang telah dicapai.
- Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.
- Hasil belajar yang dicaPendidikan Agama Kristen bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.
- Hasil belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan ranah psikomotorik, keterampilan atau prilaku.
- Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicaPendidikan Agama Kristennya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.
Oleh karena itu, guru diharapkan dapat mencapai hasil belajar,
Setelah melaksanakan proses belajar mengajar yang optimal sesuai
dengan ciri-ciri tersebut di atas.
-
-
- Pembelajaran Kooperatif
-
1. Pembelajaran Kooperatif
Menurut Davidson dan Worsham, pembelajaraan kooperatif adalah “model pembelajaraan yang sistematis dengan mengelompokan siswa dengan tujuan menciptakan pendekatan pembelajaraan yang efektif dan mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis” sedangkan menurut Johns pembelajaran kooperatif adalah “kegiatan belajar mengajar secara kelompok – kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang optimal,baik pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok.”
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajar Kooperatif adalah suatu pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa untuk bekerja sama untuk mencapai pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok.
2.Ciri – ciri dan Unsur – unsur dasar pembelajaran kooperatif
a. Ciri – ciri Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim, pembelajaran kooperatif dicirikanoleh struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaraan kooperatif didorong dan atau dikehendaki untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dalam penerapan pembelajaraan kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sma lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil dalam kelompok.
Ciri–ciri pembelajaraan yang mengguanakan model kooperatif adalah
- Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
- Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,sedang, dan rendah
- Anggota kelompok hendaknya berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda – beda.
- Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok ketimbang individu.7
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model Pembelajaran Kooperatif merupakan pembelajaran yang mengelompokan siswa yang memiliki kemmpuan yang beragam dan tidak membedakan ras, suku, budaya maupun jenis kelamin.
b. Unsur – unsur dasar pembelajaraan kooperatif
Menurut ibrahim, unsur – unsur dasar pembelajaraan kooperatif adalah sebagai berikut :
- Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
- Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
- Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalamkelompoknya memiliki tujuan yang sama.
- Siswa haruslah membagi tugas dan tanggungijawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
- Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang akan dikenakan utnuk semua anggota kelompok.
- Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
- Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individu materi yang akan ditangani dalam kelompok kooperatif.
Agar pembelajaran kooperatif dapat terlaksana dengan baik dan optimal hendaknya guru tidak meninggalkan unsur-unsur pembelajaran kooperatif seperti yang telah diuraikan di atas.
c. Tujuan pembelajaran kooperatif
Model pembelajaraan kooperatif dikembangkan untuk mencaPendidikan Agama Kristen aetidak – tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman,dan pengembangan keterampilan sosial.
- Hasil belajar Akademik
Model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit. Model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Sedangkan menurut Slavin, pembelajaran kooperatif dapat merubah norma budaya anak muda dan membuat budaya lebih dalam tugas – tugas pembelajaraan.
Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif diharapkan mendapatkan hasil belajar akademik yang maksimal yaitu mampu memahami konsep-konsep yang sulit serta dapat mengubah norma budaya anak muda menjadi budaya lebih untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan baik.
- Penerimaan terhadap keragaman
Efek samping yang kedua dari model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidak mampuan. Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas– tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untk menghargai satu sama lain.
Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif juga dapat memberikan efek yang positif terhadap nilai keragaman dimana peserta didik mampu menerima perbedaan baik ras, suku, budaya, kelas social maupun kemampuan.
-
-
- Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble
-
Model Pembelajaran Scramble tampak seperti model pembelajaran word square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi jawaban sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat/benar. Scramble merupakan suatu metode mengajar dengan membagikan lembar soal dan lembar jawaban yang disertai dengan alternatif jawaban yang tersedia. Siswa diharapkan mampu mencari jawaban dan cara penyelesaian dari soal yang ada.
Menurut Suyatno, Scramble merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang disajikan dalam bentuk kartu. tahapannya adalah sebagai berikut.
1.Membuat kartu soal sesuai materi ajar.
Guru membuat soal sesuai dengan materi yang akan disajikan kepada
siswa.
2.Membuat kartu jawaban dengan diacak.
Guru membuat pilihan jawaban yang susunannya diacak sesuai
jawaban soal-soal pada kartu soal.
3.Sajikan materi.
Guru menyajikan materi ajar kepada siswa.
4.Bagikan kartu soal dan kartu jawaban pada kelompok.
Guru membagikan kartu soal dan membagikan kartu jawaban sebagai
pilihan jawaban soal-soal pada kartu soal.
5.Siswa berkelompok mengerjakan kartu soal.
Siswa berkelompok dan saling membantu mengerjakan soal-soal
yang ada pada kartu soal.
6.Siswa mencari jawaban untuk setiap soal-soal dalam kartu soal.
Siswa mencari jawaban yang cocok untuk setiap soal yang mereka
kerjakan dan memasangkannya pada kartu soal.
Model pembelajaran kooperatif tipe Scramble mempunyai kelebihan. Kelebihannya tipe ini antara lain: (a) memudahkan siswa untuk menemukan jawaban; (b) mendorong siswa untuk mengerjakan soal tersebut karena jawaban sudah tersedia; (c) semua siswa terlibat; (d) kegiatan tersebut dapat mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
-
-
- Berfikir Kreatif dan Kritis
-
Ketika ada teman yang pandai melukis atau pandai membuat kerajinan tangan, biasanya kita akan memujinya dengan mengatakan, “Wah, kamu hebat dan kreatif ya!” Terkesan bahwa kreatifitas adalah bajat atau kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, pemahaman seperti itu tidak benar. Kemampuan kreatif seseorang dihasilkan dari kerja keras yang berkesinambungan dari berfikir, berlatih, dan mengasah kemampuan berfikir.
Jadi makna kreatif perlu ditinjau ulang. Berfikir kreatif adalah berfikir dengan tidak membatasi diri pada hal-hal yang biasa dan rutin, tetapi mencari terobosan baru atau ide-ide baru agar terjadi perubahan atau peningkatan. Kemampuan berfikir kreatif tidak hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, melainkan dapat diasah, dibiasakan dan dikembangkan pada semua orang, baik dalam diri anak-anak maupun orang dewasa.
Contohnya, pengalaman penemu ide jual air putih dalam kemasan dengan merek “Aqua”.Pada mulanya ide baru ini dipertanyakan oleh orang banyak bahkan banyak pula yang menertawakannya. Namun, kita dapat melihat dan menilainya sekarang, ketika ide ini justru menjadi peluang kerja bagi banyak warga masyarakat Indonesia.
Contoh lainnya, ide menjadikan barang-barang yang tidak berguna memiliki nilai berguna dan nilai jual yang tinggi, seperti tanaman eceng gondok atau pelepah daun pisang menjadi barang-barang, seperti tas, pigura foto, pigura cermin, hiasan dinding, lukisan, yang berhasil menembus pasaran luar negeri.
Clifford Gertz, seorang antropolog, berkata bahwa bangsa Indonesia sudah berpuluh tahun hidup dalam suasana “penyeragaman”, baik sikap, pendapat maupun cara berfikir semuanya harus sama. Seolah-olah semua yang sama dan seragam menampakkan kekompakan, padahal hal ini tidak memberi ruang pada kreativitas banyak orang untuk dapat mengembangkan diri melalui ide-ide baru yang berbeda.
Contoh paling sederhana dapat dilihat bagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya masih belum bisa menerima perbedaan pendapat baik kalangan pendidikan, keluarga, komunitas teman atau masyarakat bahkan di dunia hukum dan elit politik pemerintahan. Masih kental pemahaman berbeda pendapat itu sesuatu yang tabu dan menciptakan oposisi dengan pemikiran orang lain. Apalagi dengan tokoh yang lebih tinggi statusnya. Jika kondisi seperti ini terus menerus dibiarkan, maka kemampuan seseorang untuk berfikir kritis lama-kelamaan akan menjadi tumpul dan mandul. Karena itu, perlu dibina dan dibentuk sejak dini baik di lingkungan pendidikan, keluarga, masyarakat, maupun kalangan politik pemerintahan sebuah suasana dan lingkungan yang menhargai perbedaan pendapat sikap ataupun perbedaan cara berfikir sehingga mampu merangsang dan menyuburkan pertumbuhan kreatifitas seseorang.
Menurut psikolog Robert W. Olson, hambatan-hambatan seseorang untuk menjadi kreatif, antara lain karena faktor:
- Kebiasaan: Kebisaan dalam melaksanakan pekerjaan yang sama dengan cara yang sam Cobalah kita berfikir berbeda untuk hal-hal rutin yang telah kita lakukan. Misalnya, kebanyakan orang melipat tangan dengan pergelangan berlawanan dan posisi pergelangan tangan kanan ada di atas, maka kebanyakan orang merasa kaku dan sulit melakukannya karena tidak biasa. Pola kebiasaan yang selalu sama dan tidak mau berfikir beda akan menghambat kreatifitas seseorang.
- Waktu: Kesibukan sering dijadikan alasan untuk tidak kreatif, padahal setiap orang baik yang kreatif sekalipun mempunyai waktu yang sama 1 hari 24 jam. Mereka telah terbiasa bertindak tanpa berfikir terlebih dahulu, sehingga mereka tidak pernah menajamkan pikiran melalui kreativitas. Henry Ford berkata, “Semakin banyak berfikir, semakin banyak pula waktu yang anda miliki”. Artinya semakin kreativitas kita berkembang semakin banyak waktu luang yang kita ciptakan.
- Dibanjiri masalah: Jika kita berada di rumah dan mau masuk ke sekolah kita menghadapi satu masalah. Kita mau menghadapi ulangan untuk mendapat nilai baik, kita pun menghadapi masalah. Untuk dapat berubah menjadi lebih baik pasti akan menghadapi berbagai macam masalah.
Ada kriteria masalah yang
“genting dan penting”.
“genting tidak penting”.
“tidak genting tapi penting”.
“tidak genting dan tidak penting”.
Jika kita mampu menentukan skala prioritas, maka kita dapat memandang semua masalah sebagai tantangan kreatif. Makin mampu kita menyelesaikan masalah makin kita dituntut untuk lebih kreatif lagi.
- Tidak ada masalah: kita adalah makhluk pemecah masalah yang terus-menerus menghadapi dan memecahkan sejumlah masalah. Jika masalah kita dipecahkan secara otomatis atau menurut kebiasaan, kita tidak akan pernah mempunyai masalah. Sekalipun kita memecahkan sebuah masalah, kita cenderung berfikir bahwa masalah itu telah diselesaikan untuk selamanya, dan kita menggunakan cara pemecahan yang kita anggap terbaik. Karena itu, untuk menjadi kreatif adalah secara teratur menguji kembali pemecahan masalah yang kita hadapi sebagai evaluasi untuk mencari jalan pemecahan yang lebih baik lagi.
- Tidak gagal: Nilai-nilai ulangan saya sudah mencapai nilai minimal, jadi saya sudah cukup aman dan berpuas diri. Atau pekerjaan saya sudah cukup untuk hidup sehari-hari jadi saya sudah aman dan berpuas diri. Orang-orang seperti ini akan ada dalam zona nyaman yang sewaktu-waktu dapat berubah bahkan hilang. Mereka akan mengalami penumpulan kreativitas karena tidak pernah melatih ketajaman kreativitas sejak awal. Kegagalan manusia dalam berusaha dapat berbentuk pengasingan, kritik, kehilangan waktu, kehilangan pendapatan, kecelakaan. Akan tetapi, lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba, karena kita akan kehilangan sebuah peluang emas untuk sukses.
- Kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang: Manusia tidak mau mengalami kesulitan karena tidak memiliki jawaban langsung, jadi ketika masalah dikemukakan, kita secara langsung memberikan pemecahan. Baru setelah gagal mereka memberikan jalan pemecahan berikutnya lagi. Dalam hal ini seseorang perlu melatih diri membuat pemecahan alternatif yang telah dipertimbangkan terlebih dahulu sebagai bentuk-bentuk pemecahan yang lain, dan hal ini akan mampu merangsang pikiran seseorang utntuk melatih krerativitasnya.
- Kurang memperluas wawasan: kita sudah bermain tenis, memasak, bekerja dengan komputer, tetapi kita tidak mau mengembangkan diri lebih jauh: mengembangkan strategi barmain tenis, mencoba menu-menu baru yang lebih enak dari bahan yang sama, ataupun memperdalam program-program komputer yang terus-menerus berkembang dan semakin canggih. Karena itu, setiap orang harus terus belajar mengembangkan diri, memperluas wawasan dengan membaca dan praktik.
- Takut bersenang-senang: Bagian proses pemecahan masalah secara kreatif mencakup kegiatan-kegiatan yang bersifat santai seolah-olah main-main tetapi dipikirkan dan dipertimbangkan secara serius (sersan: serius tapi santai). Manusia sering tidak sadar bahwa rileks, bergembira, dan santai merupakan aspek-aspek penting dari proses pemecahan masalah secara kreatif, sedangkan situasi tegang dan stres akan menumpulkan kreativitas seseorang.
- Dibutuhkan ide-ide dan gagasan yang fleksibel: Setiap gagasan dan ide yang baru dan segar akan selalu merangsang kreativitas seseorang, akan tetapi ide pemecahan masalah di satu tempat belum tentu tepat diberlakukan di tempat lain. Karena itu, gagasan dan pengembangan ide-ide baru harus tetap dipikirkan dan dikembangkan.
Contoh hasil kreativitas seseorang dalam menyampaikan pesan tentang kehati-hatian di jalan raya secara visual dengan cara kreatif, sehingga sarana umum yang menjemukan dapat menjadi hiburan bagi semua masyarakat dan pengguna jalan raya.
- Kreativitas dalam Iman Kristen
Berfikir kreatif erat kaitannya dengan berfikir kritis. Ketika seseorang memacu diri berfikir kreatif, maka pada saat itu juga sebenarnya ia sedang berfikir kritis. Berfikir kreatif dan kritis saling terkait dan menunjang karena sama-sama membutuhkan sikap kemandirian, bebas dari ketakutan serta tekanan, dan terlebih lagi harus dikembangkan dalam berbagai bidang termasuk dalam pertumbuhan iman.Mungkin sebagian orang berfikir bahwa iman hanya dapat didalami secara intuitif dan bersifat spiritual belaka dan tanpa perlu berfikir lagi. Jadi, kegiatan berfikir tentang Tuhan dianggap sebagai hal yang tidak beriman dan ketika seseorang beriman, maka ia tidak perlu berfikir lagi tentang Tuhan.
Banyak tokoh dalam Alkitab dan para Bapak Gereja mengajarkan kepada kita bahwa beriman tidak mungkin dipisahkan dari berfikir. Yosua, dalam menanggapi pesan Allah, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan...”(Yos. 1-6), mencoba mengaktualisasikan kepemimpinannya dengan memberikan perintah kepada para pasukan dan bangsa Israel dalam kerangka strategi untuk merebut Kanan dan meruntuhkan tembok Yerikho (Yos.1, 2). Ketika tokoh ini menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, ia justru merasakan penghayatan imannya menjadi hidup dan berkembang melalui cara berfikir dan bertindak yang konkret.
Kita mencoba belajar juga dari Tuhan Yesus yang hidup dengan latar belakang budaya Yahudi yang kolot. Dengan peraturan-peraturan hukum Taurat yang sangat ketat, mulai dari mencuci tangan sebelum makan, melaksanakan hari Sabat, mengatur cara berdoa, cara berjalan, pernikahan, utang-piutang, menangani janda, menghukum pelacur, sampai tentang kematian. Penjabaran hukum Taurat dalam keseharian hidup justru menjadikan hukum Taurat itu sendiri kehilangan makna kasih, kepedulian, kekudusan, dan keadilan Allah di dalamnya. Hukum Taurat, yang seharusnya merupakan sarana Allah untuk menolong manusia berelasi dengan Allah dan sesamanya, justru membelenggu manusia bahkan menjadikan manusia hakim bagi manusia lain. Peraturan hari Sabat sebagai hari perhentian dan hari beristirahat untuk memuliakan Tuhan dijadikan hari yang paling jahat karena pada hari Sabat manusia sama sekali tidak boleh menolong sesama, menyembuhkan orang sakit, bahkan membantu orang yang sudah sekarat dan hampir mati.
Tuhan Yesus lahir dan hadir ditengah-tengah penyelewengan hukum-hukum Allah yang seharusnya membebaskan umat manusia.Dalam Matius 5:17 Yesus mengatakan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menanggapinya”.Ia tidak membatasi diri pada hal-hal yang biasa, rutin, tetapi mencari terobosan agar terjadi perubahan atau peningkatan dalam lingkungan masyarakatnya. Ia melawan kebiasaan bangsanya sendirim dengan menyembuhkan orang di hari Sabat (Luk. 6:6-11; 13:10-17), mengasihi musuh (Mat. 5:38-48) membela perempuan yang kedapatan berzina, mengusir kuasa iblis dalam diri orang gila (Luk. 8:26-39), menolong dan merangkul orang-orang berdosa dan yang tersesat. Yesus berani berfikir kritis dan kreatif dalam mengkritik budaya masyarakat-Nya sendiri karena kesalahan yang dilakukan secara turun-temurun atas aturan-aturan hukum Taurat.
- Belajar dari Tokoh-tokoh Alkitab
Bagaimana tokoh-tokoh Alkitab menggunakan pikiran mereka?
- Raja Salomo
Ia terkenal sebagai orang yang paling berhikmat karena secara khusus ia memohonkan hal ini kepada Tuhan. Memang hikamat atau kebijakan sangat penting bagi manusia dalam membangun hidup, terutama dari perspektif iman. Dalam sebuah proses berfikir, hikmat melahirkan berbagai pikiran positif, kreatif dan kritis. Ingat kisah doanya dan bagaimana ia mengadili dua perempuan sundal? Bacalah di Kitab 1 Raja raja 3. Menurut tradisi, hasil pemikiran dan kumpulan pengetahuan Solomo tercatat dalam Kitab Amsal. Harus diakui bahwa sampai saat ini pun apa yang dituliskan itu masih berlaku, tidak lapuk dimakan zaman. Bahkan pesannya untuk kawula muda pada Pengkhotbah 11:9-12:14 memiliki arti tersendiri. Ini sudah kita bahas pada pelajaran 3 yang lalu.
- Yusuf
Yusuf dikenal sebagai pemimpi.gara-gara mimpi dan caranya menafsirkan mimpi inilah Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya, lalu dijual ke saudagar-saudagar Midian, kemudian dibawa ke Mesir.Ternyata kemahirannya menafsirkan mimpi jugalah yang membuat Yusuf menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir.Lihat, ternyata Allah bekerja membawa kebaikan bagi umat-Nya dengan menggunakan pikiran manusia.Betapa mengagumkan bukan? Coba baca kejadian 50:19-21 dan renungkan bagaimana Yusuf melihat semua perlakuan saudara-saudaranya sebagai rancangan Allah bagi seluruh keluarga besar Yakub. Kalau Yusuf memeluhara dendam atas saudara-saudaranya tentu ia tidak akan membawa seluruh keluarga besar ayahnya ke Mesir. Mungkin juga tidak akan pernah lahir Musa sebagai pemimpin besar umat Israel.
- Rasul Paulus
Dia adalah pekabar Injil yang gigih di zamannya. Tak diragukan lagi, bahwa Paulus adalah seorang intelektual; ia mengatur manajemen pekabaran Injil dengan perencanaan yang baik dan strategis. Ia mengangkat kepala perwakilan di tiap kota dan memonitor tugas mereka sambil memberikan nasihat dan dukungan. Ini bisa dipelajari dari surat-surat yang ia kirimkan ke berbagai jemaat yang memang tersebar. Setiap surat mengandung pesan khusus yang memang cocok untuk situasi jemaat tersebut. Sedapat mungkin ia juga menghadirkan kawan sekerja yang bersama-sama menjadi satu tim kerja bagi pelayanan yang dilakukan. Prinsip pemberdayaan ini menghasilkan orang-orang yang memberikan dampak nyata bagi penyebaran Injil di berbagai tempat.
- Meneladani Tuhan Yesus
Tuhan Yesus diakui sebagai Guru yang sangat kreatif. Bacalah setiap pasal dari Kitab Yohanes dan perhatikan bagaimana Yesus menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk mewartakan kabar baik kepada orang yang membutuhkan.Yesus juga sangat sering menggunakan perumpamaan yang sering ditanyakan maknanya oleh para murid. Dengan kata lain, Yesus menghadirkan model pembelajaran yang sungguh kaya. Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit, tetapi ia membawa orang pada pemulihan hubungan dengan Allah Bapa karena untuk itulah Ia datang ke dunia ini. Baca misalnya di Yohanes:9.
Namun, Tuhan Yesus juga dikenal sebagai pengkritik yang hebat. Dibalik kesalehan beribadah Ia menemukan sikap pura-pura dari para ahli Taurat dan orang Farisi (baca misalnya Mat. 12:22-37, Mrk. 12:1-40 dan Yoh. 8). Sebaliknya, ia sungguh terharu ketika menemukan seorang janda miskin memberikan semua miliknya sebagai persembahan (Mrk. 12:41-44). Pada usia yang masih muda, Yesus telah melakukan berbagai terobosan utnuk memperbarui pemahaman iman orang percaya. Dalam tiap perumpamaan, khotbah, dan cerita, Ia menyampaikan pikiran-pikiran yang kreatif dan kritis ini ditolak oleh orang-orang se zaman-Nya karena mereka meletakkan iman kepada Allah di bawah kekuatan tradisi dan adat suku bangsa, serta kepentingan kekuasaan dan politik.
- Berfikir dan Penghayatan Iman
Mengapa berfikir kreatif dan kritis penting bagi remaja Kristen?Banyak orang salah mengira bahwa iman hanya dapat didalami secara intuitif dan bersifat spiritual belaka tanpa dibekali dengan pemikiran.Para tokoh Alkitab dan para Bapa Gereja umumnya adalah para pemikir dan pembaru.Musa, yang telah memimpin Israel keluar dari Mesir, adalah pemimpin kreatif yang telah merencanakan berbagai strategi jitu untuk keselamatan orang Israel.Ketika para tokoh ini menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan, mereka merasakan bagaimana jalan pikiran dan tindakan mereka menjadi lebih bermakna. Mereka pun merasakan ada energi yang memberi kekuatan untuk selalu mampu berfikir dan merancang berbagai tindakan kreatif dan kritis dalam kaitannya dengan hidup pribadi dan untuk orang lain.
Hal ini berbeda dengan orang yang hanya rajin berdoa, tetapi malas belajar dan berfikir.Manusia beriman adalah manusia yang menjalankan ibadah dalam seluruh hidupnya termasuk bekerja keras dan selalu di dorong untuk berfikir kreatif dan kritis sehingga menjadi manusia yang bijaksana.Memang ada orang-orang tertentu yang lebih suka mendapatkan pengarahan dalam menjalani kehidupan beriman mereka. Misalnya, mereka tidak menggali sendiri kekayaan firman Tuhan dalam Alkitab, mereka selalu meminta petunjuk dari para pemimpin agama tentang apa yang harus dilakukan. Berkali-kali Yesus mengajarkan orang banyak untuk mengembangkan hubungan pribadi dan dengan Allah Bapa, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu... Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:7-11).Sekalipun Allah Bapa tahu apa yang kita butuhkan, Ia mau supaya kita memintanya secara pribadi, bukan melalui perantaraan orang lain. Sebab itu, sebagai pengikut Kristus, kita diminta untuk mengembangkan hubungan pribadi dengan Kristus.
Alkitab adalah firman Allah yang tidak pernah usang ataupun kuno; Alkitab merupakan buku yang paling banyak dicetak dan dibaca berkali-kali (baca apa yang dikatakan pemazmur tentang firman Tuhan dalam Mazmur 119:97-104). Tetapi untuk membuat orang mau membaca Alkitab, terutama pada tahap permulaan, diperlukan pemikiran kreatif dan kritis sehingga kehadiran Alkitab tidak ditolak.Ditempat-tempat yang tidak memungkinkan pemberitaan Injil berlangsung dengan bebas, gereja bergerak di bawah tanah dan para pengikut Kristus harus terus-menerus melahirkan pemikiran kreatif dan kritis agar misi kerajaan Allah tetap berjalan dengan baik.
Dalam Yohanes 8:44 Tuhan Yesus mengingatkan bahwa iblis adalah bapa segala dusta. Kalau kita tidak menyikapi secara kritis, berbagai bentuk tipu daya Iblis di sekitar kita, dengan mudah kita dapat masuk dalam perangkapnya (kita akan belajar tentang strategi Iblis untuk menjatuhkan Tuhan Yesus dalam pelajaran berikut). Melalui hubungan pribadi yang terjadi dengan Allah Bapa yang kita kenal melalui Tuhan Yesus Kristus, kita dikarunia hikmat Allah dan melalui kehadiran Roh Kudus yang menyertai apapun yang kita kerjakan, kita tetap dapat meyakini bahwa Allah memberikan petunjuk yang jelas sehingga keputusan yang sudah diambil tidak perlu disesali di kemudian hari. Kehadiran orang-orang lain yang kita anggap sebagai pembimbing rohani menguatkan kita dan mendukung pergumulan kita dalam doa, tetapi mereka tidak mengambil alih pergumulan itu dan menyelesaikannya di luar pengetahuan kita.
Allah merancang yang baik dan indah untuk kita sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya. Karena itu, tidaklah mengherankan bila Rasul Paulus menyatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8).
BAB III METODE PENELITIAN
-
- Seting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMKN 2 Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah, yang berada di kota Kabupaten. SMKN 2 Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai fasilitas yang hamper lengkap dengan adanya Perpustakaan, Laboratorium IPA, Ruang ketrampilan Menjahit, Laboratorium Otomotif, Laboratorium Pertukangan dan Pembangunan, Laboratorium computer, ruang UKS, Ruang OSIS dan lain-lain. Dengan jumlah guru sebanyak 51 orang terdiri dari 1 (satu) kepala sekolah, 4 (empat) wakil Kepala Sekolah dan sisnya guru Mata Pelajaran dan guru Biimbingan Konseling serta 7 Tenaga Administrasi.
-
- Objek Penelitian
Objek Penelitian ini adalah Siswa Kelas X dengan jumlah siswa sebanyak 17, yang terdiri dari 4 siswa laki – laki dan 13 siswa perempuan SMKN 2 Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.
-
- Prosedur Penelitian
Waktu Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan September sampai dengan Nopember 2015.
Penelitian ini pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis diajarkan.Penelitian ini direncanakan sebanyak 2 siklus masing – masing siklus 1 kali pertemuan.
Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan Siklus.
- Siklus I
Pada siklus ini membahas subkonsep materi Berpikir Kreatif dan Kritis.
- Tahap Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan persiapan–persiapan untuk melakukan perencanaan tindakan dengan membuat silabus, rencana pembelajaran, lembar observasi guru dan siswa, lembar kerja siswa, dan membuat alat evaluasi berbentuk tes tertulis dengan model pilihan ganda.
- Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini dilakukan :
- Siswa diminta untuk mempersiapkan diri di rumah dengan memberi tugas membaca bahan ajar sehingga siswa memiliki kesiapan belajar.
- Guru menjelaskan materi Berpikir Kreatif dan Kritis secara klasikal.
- Pengorganisasian siswa yaitu dengan membentuk kelompok, masing – masing kelompok terdiri dari 4–6 orang siswa, kemudian LKS dan siswa diminta untuk mempelajari LKS.
- Dalam kegiatan pembelajaran secara umum siswa melakukan kegiatan sesuai dengan langkah–langkah kegiatan yang tertera dalam LKS, diskusi kelompok, diskusi antar kelompok, dan menjawab soal – soal. Dalam bekerja kelompok siswa saling membantu dan berbagi tugas. Setiap anggota bertanggung jawab terhadap kelompoknya.
- Tahap Observasi
Pada tahapan ini dilakukan observasi pelaksanaan tindakan, aspek yang diamati adalah keaktifan siswa dan guru dalam proses pembelajaran menggunakan lembar observasi aktivitas dan respon siswa serta guru. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa diperoleh dari tes hasil belajar siswa.
- Tahap Refleksi
Pada tahap ini dilakukan evaluasi proses pembelajaran pada siklus I dan menjadi pertimbangan untuk merencanakan siklus berikutnya. Pertimbangan yang dilakukan bila dijumpai satu komponen dibawah ini belum terpenuhi, yaitu sebagai berikut :
- Siswa mencapai ketuntasan individual ≥ 75 %.
- Ketuntasan klasikal jika ≥ 85% dari seluruh siswa mencapai ketuntasan individual yang diambil dari tes hasil belajar siswa.
- Siklus II
Hasil refleksi dan analisis data pada siklus I digunakan untuk acuan dalam merencanakan siklus II dengan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I. Tahapan yang dilalui sama seperti pada tahap siklus I.
-
- Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam PTK ini yaitu :
-
- Observasi dilakukan oleh guru yang bersangkutan dan seorang
kolaborator untuk merekam perilaku, aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan lembar observasi.
b. Tes hasil belajar untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.
Instrumen yang diganakan pada Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari:
- Lembar Test / ulangan harian untuk mengetahui hasil belajar siswa.
- Lembar observasi siswa untuk mengetahui tingkat mativasi siswa mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.
- Lembar observasi Guru untuk mengetahui kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh Guru.
- Teknik Analisa Data
Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis secara Deskriptif, seperti berikut ini :
1. Data tes hasil hasil belajar digunakan untuk mengetahui ketuntasan
Belajar siswa atau tingkat keberhasilan belajar pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif tipe Scramble. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) secara individual jika siswa tersebut mampu mencapai nilai 75.
Ketuntasan klasikal jika siswa yang memperoleh nilai 75 ini jumlahnya sekitar 85% dari seluruh jumlah siswa dan masing – masing di hitung dengan rumus,menurut Arikunto (2012:24) sebagai berikut:
P=FN x 100%
Dimana : P = Prosentase
F = frekuensi tiap aktifitas
N = Jumlah seluruh aktifitas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi kondisi Awal
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Metode Pembelajaran Tipe Scramble pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis sub (1) Berpikir Kreatif dan Kritis. Disamping itu guru juga membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas guru dan siswa. Selanjutnya, guru membuat tes hasil belajar. Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, guru dan observer mendiskusikan lembar observasi.
-
- Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan awal dilaksanakan pada hari Selasa 29 september 2015 dari pukul 07.00 s.d 08.30 WIB. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi waktu untuk kegiatan inti adalah 60 menit dan alokasi kegiatan penutup sebesar 20 menit.
Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menyapa dan mengecek kehadiran siswa, (2) melakukan icebreaking berupa menyanyi, (3) menggali pengetahuan siswa dan mengaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan icebreaking yang dilakukan guru.
Melalui kegiatan inti mendesain kegiatan agar siswa dapat mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Untuk dapat menemukan berkaitan dengan Scramble, pertama-tama guru membagi siswa dalam 4 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa.
Guru menjelaskan terlebih dahulu tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa tidak menjadi bingung. Selain itu, selama diskusi berlangsung guru berkeliling kelompok untuk mengawasi siswa bekerja sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil diskusi kelompok. Siswa dari kelompok lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kelompok yang sedang presentasi. Jika terdapat kekeliruan, guru terlebih dahulu meminta sesama siswa yang melakukan perbaikan.Siswa yang hasil temuan kelompok yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.
Kegiatan akhir kondisi awal antara lain: (1) melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan strategi Scramble, (2) siswa melakukan kilas balik tentang pembelajaran yang baru dilakukan dan (3) siswa dan guru merayakan keberhasilan belajar dengan bertepuk tangan gembira.
-
- Observasi
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Pembelajaran pada kondisi awal setelah dilakukan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih ada sebagain kecil masalah yang muncul pada saat proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung. Dengan adanya masalah yang terjadi pada kondisi awal, maka kami bersama pengamat merefleksikan masalah tersebut agar mampu diperbaiki pada siklus I dengan harapan semua siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya.
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kondisi awal. Hasil belajar siswa pada kondisi awal dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble dari sejumlah 17 siswa terdapat 11 siswa atau 64,7% yang tuntas dan yang tidak tuntas ada 6 Siswa atau 35,3% yang tidak tuntas. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.
Tabel.1 hasil ulangan harian kondisi awal
|
No. |
Nama Siswa |
|||
|
Berpikir Kreatif dan Kritis |
||||
|
Kondisi awal |
Tuntas |
Tidak Tuntas |
||
|
1 |
Anjuani |
60 |
V |
|
|
2 |
Agustina Escrana E.R |
70 |
|
V |
|
3 |
Debora Vrikanela |
75 |
V |
|
|
4 |
Devita Sari |
75 |
V |
|
|
5 |
Eriko Pratama |
75 |
V |
|
|
6 |
Gustinawati |
70 |
|
V |
|
7 |
Jaya Satria |
75 |
V |
|
|
8 |
Kacici |
60 |
|
V |
|
9 |
Lili Fatmawati |
75 |
V |
|
|
10 |
Mahgreta Rahuni |
70 |
|
V |
|
11 |
Nia Fransiska |
75 |
V |
|
|
12 |
Petriyani |
80 |
V |
|
|
13 |
Pino Adam Saputra |
75 |
V |
|
|
14 |
Reflee Leona S |
80 |
V |
|
|
15 |
Seni |
60 |
|
V |
|
16 |
Tantina |
75 |
V |
|
|
17 |
Winey Daya K |
80 |
V |
|
|
Jumlah |
1230 |
|
|
|
|
Rata- Rata |
72,4 |
|
|
|
|
Ketuntasan Klasikal |
64,7% |
|
|
|
-
- Refleksi
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble ternyata hasil yang didapat nilai rata-rata sebesar 72,4 dan secara klasikal sebesar 64,7%. Hal ini masih jauh dari harapan. Oleh karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis.
Pada kondisi awal terdapat kekurangan pemahaman siswa pada materi bahan Berpikir Kreatif dan Kritis. Menurut pengamat, ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama, siswa tidak fokus pada pengisian LKS sehingga ada bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna. Kedua, siswa banyak melakukan hal–hal di luar konteks pembelajaran, seperti bermain dengan teman sekolompoknya. Ketiga, diantara satu atau dua kelompok tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pada saat evaluasi di akhir pelajaran.
Dari temuan kekurangan tersebut maka peneliti membuat strategi baru untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan pada siklus I. Untuk masalah yang pertama peneliti menugaskan tiga orang siswa pada setiap kelompok untuk menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi lengkap sehingga siswa lebih memahami materi pengelompokan baru, agar mengurangi siswa yang saling bermain dengan temannya. Sedangkan masalah yang ketiga, peneliti memberikan penjelasan lebih detail tentang materi Berpikir Kreatif dan Kritis khususnya untuk pertanyaan yang sulit atau tidak mampu dijawab oleh kelompok dalam diskusi. Disamping itu untuk masalah yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.
4.1.2 Deskripsi hasil siklus 1
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Metode Pembelajaran Tipe Scramble dengan materi Berpikir Kreatif dan Kritis sub (2) Kreatifitas dalam Iman Kristen dan (3) Belajar dari Tokoh-tokoh Alkitab. Disamping itu guru juga membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas guru dan siswa. Selanjutnya, guru membuat tes hasil belajar. Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, guru dan observer mendiskusikan lembar observasi.
-
- Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan pada hari Selasa 13 Oktober 2015 dari pukul 07.00 s.d 08.30 WIB. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi waktu untuk kegiatan inti adalah 60 menit dan alokasi kegiatan penutup sebesar 20 menit.
Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menyapa dan mengecek kehadiran siswa, (2) melakukan icebreaking berupa menyanyi, (3) menggali pengetahuan siswa dan mengaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan icebreaking yang dilakukan guru.
Melalui kegiatan inti mendesain kegiatan agar siswa dapat mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Untuk dapat menemukan berkaitan dengan Scramble, pertama-tama guru membagi siswa dalam 4 kelompok dan setiapkelompok terdiri dari 4-5 orang siswa.
Guru menjelaskan terlebih dahulu tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa tidak menjadi bingung. Selain itu, selama diskusi berlangsung guru berkeliling kelompok untuk mengawasi siswa bekerja sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa. Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil diskusi kelompok. Siswa dari kelompok lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kelompok yang sedang presentasi. Jika terdapat kekeliruan, guru terlebih dahulu meminta sesama siswa yang melakukan perbaikan.Siswa yang hasil temuan kelompok yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.
Kegiatan akhir siklus I antara lain: (1) melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan strategi Scramble, (2) siswa melakukan kilas balik tentang pembelajaran yang baru dilakukan dan (3) siswa dan guru merayakan keberhasilan belajar dengan bertepuk tangan gembira.
-
- Observasi
- Hasil Belajar Siswa
- Observasi
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Pembelajaran pada siklus 1 setelah dilakukan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih ada sebagain kecil masalah yang muncul pada saat proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung. Dengan adanya masalah yang terjadi pada siklus I, maka kami bersama pengamat merefleksikan masalah tersebut agar mampu diperbaiki pada siklus II dengan harapan semua siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya.
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada siklus I. Hasil belajar siswa pada siklus I dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble dari sejumlah 17 siswa terdapat 14 siswa atau 82,4%% yang tuntas dan yang tidak tuntas ada 3 Siswa atau 17,6% yang tidak tuntas. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.
Tabel.3 hasil ulangan harian siklus I
|
No. |
Nama Siswa |
|||
|
Berpikir Kreatif dan Kritis |
||||
|
Siklus I |
Tuntas |
Tidak Tuntas |
||
|
1 |
Anjuani |
70 |
V |
|
|
2 |
Agustina Escrana E.R |
80 |
V |
|
|
3 |
Debora Vrikanela |
75 |
V |
|
|
4 |
Devita Sari |
80 |
V |
|
|
5 |
Eriko Pratama |
85 |
V |
|
|
6 |
Gustinawati |
80 |
V |
|
|
7 |
Jaya Satria |
60 |
|
V |
|
8 |
Kacici |
75 |
V |
|
|
9 |
Lili Fatmawati |
85 |
V |
|
|
10 |
Mahgreta Rahuni |
80 |
V |
|
|
11 |
Nia Fransiska |
80 |
V |
|
|
12 |
Petriyani |
75 |
V |
|
|
13 |
Pino Adam Saputra |
80 |
V |
|
|
14 |
Reflee Leona S |
90 |
V |
|
|
15 |
Seni |
70 |
|
V |
|
16 |
Tantina |
75 |
V |
|
|
17 |
Winey Daya K |
90 |
V |
|
|
Jumlah |
1330 |
|
|
|
|
Rata- Rata |
78,2 |
|
|
|
|
Ketuntasan Klasikal |
82,4% |
|
|
|
-
-
- Aktifitas Siswa
-
Hasil penelitian pengamat terhadap aktivitas siswa selama kegiatan belajar yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble pada materi pelajaran Berpikir Kreatif dan Kritis pada siklus 1 adalah rata–rata 3,04 berarti termasuk kategori baik. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.
Untuk mengetahui respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang mereka jalani dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble digunakan angket yang diberikan kepada siswa setelah seluruh proses pembelajaran selesai. Hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Scramble, ditunjukan pada Tabel 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Scramble, ditunjukan pada tabel 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket tentang tanggapan 17 siswa teerhadap model pembelajaran kooperatif tipe Scramble yang diterapkan selama kegiatan pembelajaran materi Berpikir Kreatif dan Kritis , siswa secara umum memberikan tanggapan yang positif selama mengikuti kegiatan pembelajaran dengan senang, siswa juga merasa senang dengan LKS yang digunakan, suasana kelas, maupun cara penyajian materi oleh guru, dan model pembelajaran yang baru mereka terima, selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa juga merasa senang karena bisa mmenyatakan pendapat, dan siswa merasa memperoleh manfaat dengan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble.
Tabel 5 Respons siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe
Scramble
|
No. |
Uraian |
Tanggapan Siswa |
|||
|
Senang |
Tidak Senang |
||||
|
F |
% |
F |
% |
||
|
1. |
Bagaimana perasaan kamu selama mengikuti kegiatan pembelajaran ini ? |
16 |
94,1 |
1 |
5,9 |
|
|
|
Senang |
Tidak Senang |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
2. |
Bagaimana perasaan kamu terhadap :
|
17 15 16 17 |
100 88,2 94,1 100 |
0 2 1 0 |
0 11,8 5,9 0 |
|
|
|
Sulit |
Tidak Sulit |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
3. |
Bagaimana pendapat kamu Mengikuti pembelajaran ini |
2 |
11,8 |
15 |
88,2 |
|
|
|
Bermanfaat |
Tidak Bermanfaat |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
4. |
Apakah pembelajaran ini bermanfaat bagi kamu ? |
17 |
100 |
0 |
0 |
|
|
|
Baru |
Tidak Baru |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
5. |
Apakah pembelajran ini baru bagi kamu? |
17 |
100 |
0 |
0 |
|
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
6. |
Apakah kamu menginginkan pokok bahasan yang lain menggunakan model kooperatif tipe Scramble? |
16 |
94,1 |
1 |
5,9 |
Keterangan :
F =Frekuensi respons siswa terhadap pembelajaran
kooperatif tipe Scramble
N=Jumlah: 17 orang
-
-
- Aktifitas Guru
-
Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Scramble ditunjukan pada tabel 4, bahwa pengelolaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble dalam materi pelajaran Berpikir Kreatif dan Kritis pada siklus I sebesar 2.93 yang berarti termasuk kategori baik. Data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Data Peniliaian pengelohan pembelajaran Kooperatif Tipe
Scramble
|
No. |
Aspek yang diamati |
Skor pengamatan |
|
|
RPP I |
Keterangan |
||
|
1. 2. 3. 4. |
Pesiapan Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Suasana Kelas |
3,0 2,5 2,5 3,0 |
Baik Baik Baik Baik |
|
Rata – Rata |
2,75 |
Baik |
|
Keterangan :
0 - 1,49 = kurang baik
1,5 - 2,49 = Cukup
2,5 - 3,49 = Baik
3,5 - 4,0 = Sangat Baik
-
- Refleksi
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Oleh karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis.
Pada siklus 1 terdapat kekurangan pemahaman siswa pada materi bahan Berpikir Kreatif dan Kritis. Menurut pengamat, ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama, siswa tidak fokus pada pengisian LKS sehingga ada bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna.Kedua, siswa banyak melakukan hal–hal di luar konteks pembelajaran, seperti bermain dengan teman sekolompoknya. Ketiga, diantara satu atau dua kelompok tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pada saat evaluasi di akhir pelajaran.
Dari temuan kekurangan tersebut maka peneliti membuat strategi baru untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnyaakan diterapkan pada siklus II. Untuk masalah yang pertama peneliti menugaskan tiga orang siswa pada setiap kelompok untuk menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan carademikian maka data yang terkumpul menjadi lengkap sehingga siswa lebih memahami materi pengelompokan baru, agar mengurangi siswa yang saling bermain dengan temannya. Sedangkan masalah yang ketiga, peneliti memberikan penjelasan lebih detail tentang materi Berpikir Kreatif dan Kritis khususnya untuk pertanyaan yang sulit atau tidak mampu dijawab oleh kelompok dalam diskusi. Disamping itu untuk masalah yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.
3. Deskripsi data siklus II
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan guru mempersiapkan tindakan berupa rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Metode Pembelajaran Tipe Scramble dengan memperbaiki kekurangan pada siklus I pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis sub (4) Meneladani Tuhan Yesus (5) Berpikir dan Penghayatan Iman. Disamping itu guru juga membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyusun lembar observasi aktifitas guru dan siswa. Selanjutnya, guru membuat tes hasil belajar.Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan di kelas, guru dan observer mendiskusikan lembar observasi.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan siklus IIdilaksanakan pada hari Selasa 6 Oktober 2015 dari pukul 07.00 s.d 08.30 WIB.Kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan pendahuluan adalah 10 menit, sedangkan alokasi waktu untuk kegiatan inti adalah 60 menit dan alokasi kegiatan penutup sebesar 20 menit.
Pada kegiatan pendahuluan, guru melakukan tiga kegiatan, yaitu (1) menyapa dan mengecek kehadiran siswa, (2) melakukan icebreaking berupa menyanyi, (3)menggali pengetahuan siswa dan mengaitkan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan selanjutnya. Kegiatan icebreaking yang dilakukan guru.
Melalui kegiatan inti mendesain kegiatan agar siswa dapat mengalami proses menemukan, menamai dan mempresentasikan. Untuk dapat menemukan berkaitan dengan Scramble, pertama-tama guru membagi siswa dalam 4 kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa.
Guru menjelaskan terlebih dahulu tentang tugas siswa, sebelum penugasan dilakukan sehingga siswa tidak menjadi bingung. Selain itu, selama diskusi berlangsung guru berkeliling kelompok untuk mengawasi siswa bekerja sambil sesekali mengomentari hasil kerja siswa.Perwakilan setiap kelompok kemudian membacakan hasil diskusi kelompok. Siswa dari kelompok lain akan ditanyakan pendapatnya terkait jawaban kelompok yang sedang presentasi. Jika terdapat kekeliruan, guru terlebih dahulu meminta sesama siswa yang melakukan perbaikan.Siswa yang hasil temuan kelompok yang benar dan mempresentasikan dengan bagus mendapatkan pujian dari guru sedangkan siswa yang belum melakukan dengan maksimal dimotivasi dan diberi penguatan.
Kegiatan akhir siklus II antara lain: (1)melakukan evaluasi untuk mengetahui pencapaian siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan strategi Scramble, (2) siswa melakukan kilas balik tentang pembelajaran yang baru dilakukan dan (3)siswa dan guru merayakan keberhasilan belajar dengan bertepuk tangan gembira.
-
-
-
-
- Observasi
-
-
-
- Hasil Belajar Siswa
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang ada peningkatan dalam Kegiatan Pembelajaran pada siklus II setelah dilakukan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar dan respons siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran meskipun masih ada sebagain kecil masalah yang muncul pada saat proses Kegiatan Pembelajaran berlangsung.
Partisipasi siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Kristen. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus II dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble sebanyak 16 siswa atau 94,1% yang tuntas dan yang tidak tuntas ada 1 Siswa atau 5,9% yang tidak tuntas dan nilai rata-rata sebesar 88,1. Data dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.
Tabel.3 Hasil ulangan harian pada siklus II
|
No. |
Nama Siswa |
|||
|
Berpikir Kreatif dan Kritis |
||||
|
Siklus II |
Tuntas |
Tidak Tuntas |
||
|
1 |
Anjuani |
74 |
|
V |
|
2 |
Agustina Escrana E.R |
100 |
V |
|
|
3 |
Debora Vrikanela |
90 |
V |
|
|
4 |
Devita Sari |
85 |
V |
|
|
5 |
Eriko Pratama |
100 |
V |
|
|
6 |
Gustinawati |
75 |
V |
|
|
7 |
Jaya Satria |
90 |
V |
|
|
8 |
Kacici |
75 |
V |
|
|
9 |
Lili Fatmawati |
90 |
V |
|
|
10 |
Mahgreta Rahuni |
75 |
V |
|
|
11 |
Nia Fransiska |
85 |
V |
|
|
12 |
Petriyani |
95 |
V |
|
|
13 |
Pino Adam Saputra |
90 |
V |
|
|
14 |
Reflee Leona S |
100 |
V |
|
|
15 |
Seni |
75 |
V |
|
|
16 |
Tantina |
100 |
V |
|
|
17 |
Winey Daya K |
100 |
V |
|
|
Jumlah |
1499 |
|
|
|
|
Nilai Rata- Rata |
88,1 |
|
|
|
|
Ketuntasan Klasikal |
94,1% |
|
|
|
- Aktifitas Siswa
Hasil penelitian pengamat terhadap aktivitas siswa selama kegiatan belajar yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble pada materi pelajaran Berpikir Kreatif dan Kritis pada siklus 1 adalah rata – rata 3,04 berarti termasuk kategori baik. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran .
Untuk mengetahui respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang mereka jalani dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble digunakan angket yang diberikan kepada siswa setelah seluruh proses pembelajaran selesai. Hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Scramble, ditunjukan pada Tabel 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Scramble, ditunjukan pada tabel 5 di bawah ini yang merupakan rangkuman hasil angket tentang tanggapan 17 siswa teerhadap model pembelajaran kooperatif tipe Scramble yang diterapkan selama kegiatan pembelajaran materi Berpikir Kreatif dan Kritis, siswa secara umum memberikan tanggapan yang positif selama mengikuti kegiatan pembelajaran dengan senang, siswa juga merasa senang dengan LKS yang digunakan, suasana kelas, maupun cara penyajian materi oleh guru, dan model pembelajaran yang baru mereka terima, selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa juga merasa senang karena bisa mmenyatakan pendapat, dan siswa merasa memperoleh manfaat dengan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble.
Tabel 5 Respons siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe
Scramble
|
No. |
Uraian |
Tanggapan Siswa |
|||
|
Senang |
Tidak Senang |
||||
|
F |
% |
F |
% |
||
|
1. |
Bagaimana perasaan kamu selama mengikuti kegiatan pembelajaran ini ? |
17 |
100 |
0 |
0 |
|
|
|
Senang |
Tidak Senang |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
2. |
Bagaimana perasaan kamu terhadap :
|
17 17 17 17 |
100 100 100 100 |
0 0 0 0 |
0 0 0 0 |
|
|
|
Sulit |
Tidak Sulit |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
3. |
Bagaimana pendapat kamu Mengikuti pembelajaran ini |
0 |
0 |
17 |
100 |
|
|
|
Bermanfaat |
Tidak Bermanfaat |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
4. |
Apakah pembelajaran ini bermanfaat bagi kamu ? |
17 |
100 |
0 |
0 |
|
|
|
Baru |
Tidak Baru |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
5. |
Apakah pembelajran ini baru bagi kamu? |
17 |
100 |
0 |
0 |
|
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
|
|
F |
% |
F |
% |
|
6. |
Apakah kamu menginginkan pokok bahasan yang lain menggunakan model kooperatif tipe Scramble? |
17 |
100 |
0 |
0 |
Keterangan :
F =Frekuensi respons siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe
Scramble
N = Jumlah: 17 orang
- Aktifitas Guru
Data hasil pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Scramble ditunjukan pada tabel 4, bahwa pengelolaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble dalam materi pelajaran Berpikir Kreatif dan Kritis pada siklus II sebesar 2.93 yang berarti termasuk kategori baik. Data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. Data Peniliaian pengelohan pembelajaran Kooperatif Tipe
Scramble
|
No. |
Aspek yang diamati |
Skor pengamatan |
|
|
RPP II |
Keterangan |
||
|
1. 2. 3. 4. |
Pesiapan Pelaksanaan Pengelolaan Kelas Suasana Kelas |
3,25 2,75 2,75 3,0 |
Baik Baik Baik Baik |
|
Rata – Rata |
3,125 |
Baik |
|
Keterangan :
0 - 1,49 = kurang baik
1,5 - 2,49 = Cukup
2,5 - 3,49 = Baik
3,5 - 4,0 = Sangat Baik
- Refleksi
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble. Oleh karena itu refleksi yang dikemukakan akan difokuskan pada peningkatan hasil belajar siswa pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis.
Pada siklus II terdapat kekurangan pemahaman siswa pada materi bahan Berpikir Kreatif dan Kritis.Menurut pengamat, ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama, siswa tidak fokus pada pengisian LKS sehingga ada bagian tertentu dari isi LKS yang tidak terisi dengan sempurna. Kedua, siswa banyak melakukan hal – hal di luar konteks pembelajaran, seperti bermain dengan teman sekolompoknya. Ketiga, diantara satu atau dua kelompok tidak mampu menjawab dengan baik pertanyaan yang diberikan guru pada saat evaluasi di akhir pelajaran.
Dari temuan kekurangan tersebut maka peneliti membuat strategi baru untuk mengurangi penyebab kekuangan pemahaman siswa tersebut di atas, selanjutnya akan diterapkan pada siklus II. Untuk masalah yang pertama peneliti menugaskan tiga orang siswa pada setiap kelompok untuk menulis hasil kegiatan agar semua LKS terisi semua. Dengan cara demikian maka data yang terkumpul menjadi lengkap sehingga siswa lebih memahami materi pengelompokan baru, agar mengurangi siswa yang saling bermain dengan temannya. Sedangkan masalah yang ketiga, peneliti memberikan penjelasan lebih detail tentang materi Berpikir Kreatif dan Kritis khususnya untuk pertanyaan yang sulit atau tidak mampu dijawab oleh kelompok dalam diskusi.Disamping itu untuk masalah yang ketiga ini penjelasannya dibantu oleh pengamat.
B. Pembahasan
1. Hasil Belajar
Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar evaluasi kondisi awal siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang untuk materi bahan makanan dengan model pembelajaran, kooperatif tipe Scramble diperoleh nilai rata – rata kondisi awal sebesar 72,4 dengan nilai tertinggi adalah 80 terdapat 3 orang dan nilai terendah adalah 60 terdapat 3 orang dengan ketentusan belajar 64,7% dan yang tidak tuntas 35,3%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil belajar siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang pada siklus 1 untuk materi bahan makanan dengan model pembelajaran, kooperatif tipe Scramble diperoleh nilai rata – rata siklus 1 sebesar 78,2 dengan nilai tertinggi adalah 90 terdapat 2 orang dan nilai terendah adalah 60 terdapat 1 orang dengan ketentusan belajar 82,4% dan yang tidak tuntas 17,6%.
Sedangkan pada siklus II untuk materi Mengenal Nama-nama Rasul yang menerima Kitab Allah diperoleh nilai rata – rata siklus II sebesar 88,2 dengan nilai tertinggi adalah 100 terdapat 4 orang dan nilai terendah adalah 74 terdapat 1 orang dengan ketuntasan belajar 94,1% dan yang tidak tuntas 5,9%. Siswa yang tidak tuntas baik pada siklus I maupun pada siklus II adalah siswa yang sama, ini disebabkan siswa tersebut pada dasarnya tidak ada niat untuk belajar dan sering tidak masuk sekolah.
Berdasarkan data hasil belajar siswa dari siklus I dan siklus II menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang tahun pelajaran 2015/2016 menunjukan peningkatan hasil belajar siswa pada materi yang sama yaitu Berpikir Kreatif dan Kritis. Hal ini disebabkan pada siklus I dan siklus II 2015/2016 menunjukan peningkatan hasil belajar siswa pada materi yang sama yaitu Berpikir Kreatif dan Kritis. Hal ini disebabkan pada siklus I dan siklus II 2015/2016 Sudah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble.
2. Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang menerapkan model pembelajaran tipe Scramble pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis menurut penilaian pengamat termasuk kategori baik semua aspek aktivitas siswa. Adapun aktivitas siswa yang dinilai oleh pengamat adalah aspek aktivitas siswa: mendengar dan memperhatikan penjelasan guru, kerja sama dalam kelommpok, bekerja dengan menggunakan alat peraga, keaktifan siswa dalam diskusi, memperesentasikan hasil diskusi, menyimpulkan materi, dan kemampuan siswa menjawab pertanyaan dari guru.
Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilakukan aktivitas siswa yang paling dominan dilakukan yaitu bekerja sama mengerjakan LKS dan berdiskusi. Hal ini menunjukan bahwa siswa saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk mendapatkan hasil yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat santoso (dalam anam, 2000:40) yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif mendorong siswa dalam kelompok belajar, bekerja dan bertanggung jawab dengan sungguh–sungguh sampai selesainya tugas– tugas individu dan kelompok.
3. Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble
Kemampuan guru dalam pengelolaan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble menurut hasil penilaian pengamat termasuk kategori baik untuk semua aspek. Berarti secara keseluruhan guru telah memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola model pembelajaran kooperatif tipe Scramble pada materi Berpikir Kreatif dan Kritis. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibrahim (2000), bahwa guru berperan penting dalam mengelola kegiatan mengajar, yang berarti guru harus kreatif dan inovatif dalam merancang suatu kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga minat dan motivasi siswa dalam belajar dapat ditingkatkan. Pendapat lain yang mendukung adalah piter (dalam Nur dan Wikandari 1998). Kemampuan seorang guru sangat penting dalam pengelolaan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien.
4.Respons siswa Terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Scramble
Berdasarkan hasil angket respons siswa terhadap model pembelajran kooperatif tipe Scramble yang diterapkan oleh peneliti menunjukan bahwa siswa merasa senang terhadap materi pelajaran. LKS, suasana belajar dan cara penyajian materi oleh guru. Menurut siswa, dengan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble mereka lebih mudah memahami materi pelajaran interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antar siswa tercipta semakin baik dengan adanya diskusi, sedangkan ketidak senangan siswa teerhadap model pembelajran kooperatif tipe Scramble disebabkan suasana belajar dikelas yang agak ribut.
Seluruh siswa (100%) berpendapat baru mengikuti pembelajran dengan model kooperatif tipe Scramble.Siswa merasa senang apalagi pokok bahasan selanjutnya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble, dan siswa merasa bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Scramble bermanfaat bagi mereka, karena mereka dapat saling bertukar pikiran dan materi pelajaraan yang didapat mudah diingat. Hal ini sesuai dengan pendapat rejeki (2000) yang mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan tindakan pemecahan yang dilakukan karena dapat meningkatkan kemajuan belajar sikap siswa yang lebih positif, menambah motivasi dan percaya diri sera menambah rasa senang siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Kristen.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menerapkan model pembelajaran kooperatiftipe Scramble, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Model Pembelajaran Scramble dapat meningkatkan hasil belajar pada Materi Berpikir Kreatif dan Kritis Siswa Kelas X SMKN 2 Tamiang Layang.
5.2 Saran
Berdasarkan pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble, maka peneliti dapat memberikan saran–saran, yaitu:
- Kepada guru Pendidikan Agama Kristen yang mengalami kesulitan yang dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar kelas.
- Kepada guru–guru yang ingin menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Scramble disarankan untuk membentuk kelompok–kelompok baru jika banyak siswa yang bermain pada saat belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1997.Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara
Depdiknas. 2003.UU RI No.20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional.
Jakarta: Depdiknas
--------------. 2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas
--------------.2005. PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Jakarta: Depdiknas
-------------. 2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.
Jakarta: Depdiknas
-------------. 1999. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang
Pendidikan. Jakarta: Depdikbud
Ibrahim, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. UNESA: University Press.
Hulu, yuprieli. Dkk. 2011. Suluh siswa 1: Berkarya dalam Kristus. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Kemdiknas.2011.Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Kemdiknas
-------------. 2011. Paikem Pembelajaran Aktif Inovatif
Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Jakarta: Kemdiknas
Ngalim, Purwanto. 2008. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:PT
Remaja Rosda Karya
Ngalim, Purwanto. 2003. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung:PT Remaja Rosda Karya
Sudjana, Nana. 1989. Tujuan Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Suyatno. 2009. Pembelajaran Kooperatif Tipe Scramble. Surakarta: Tiga
Serangkai
3.png)